Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

KeSaH KeSaH HaRiaN-Mu

Selamat Datang Artis-Selebritis

Humanis!!!

Oleh: Nurani Soyomukti

 

 

Artis Selebritis ternyata bukan hanya sejenis manusia yang semata-mata menghibur. Kenyataan ini berbeda dengan pandangan lamaku tentang kalangan yang dulu hanya kupahami sebagai orang-orang glamour yang kerjaannya hanya menghibur. Ada perkembangan yang menarik karena artis-selebritis kian banyak yang humanis, punya peran yang lumayan besar untuk kemanusiaan.

Dulu aku begitu jijik pada selebrtitis karena hanya melihat penampilan mereka yang hanya glamour, memamerkan kemewahan, bergaya hidup bebas dan hanya mencari kesenangan—apalagi ketika mereka tampil di infoteinmen untuk ‘curhat’ mengenai masalah-masalah mereka yang remeh-temeh, juga dengan komentar-komentar yang dangkal dan selalu diawali dan diakhiri dengan frase kata “Plis Deh!!!” atau “Gitu Lho(h)!!!

Dan memang di mata orang kebanyakan artis-selebritis  identik dengan dunia orang-orang mewah yang hanya mencari kesenangan: mereka menghibur masyarakat pop tetapi mereka juga banyak mencari hiburan dan kesenangan diri. Dengan menjadi bintang film, model, penyanyi, presenter, pelawak, dan lai-lainnya, mereka mendapatkan banyak uang. Bayangkan, untuk sekali tampil di panggung saja Krisdayanti mendapatkan uang 20 juta, paling-paling untuk pekerjaan menyanyikan beberapa lagu.

 

Glamourisme

Kalangan selebritis juga identik dengan dunia kesenangan yang didasari oleh pelampiasan hawa nafsu dan gaya hidup bebas. Sejarah dunia hiburan bisa menunjuk Madonna sebagai ikon penghibur yang konon mengukuhkan dunia kapitalisme hiburan telah mencerminkan perubahan masyarakat kita ke era posmodernitas. Dan Madonna banyak disebut oleh para ahli sebagai Ikon Posmodernitas! Majalah ‘The Time’ pada tahun 1991 menuliskan  berita bahwa Madonna telah merebut posisi sebagai penghibur dengan bayaran tertinggi dalam industri pop. Dia disebut dalam majalah itu sebagai bintang terbesar di planet ini. Bahkan Koran “Sunday Telegraph” mengakui Madonna sebagai  'female Icon of the age...'.

Bahkan Ikon keserakahan dan mengejar kesenangan hidup memang melekat pada diri Madonna. Hal itu bisa dilihat dari penampilannya dan bahkan juga pernyataan-pernyataannya, lebih jauh lagi—kalau mau meneliti sebenarnya—dari caranya berfilsafat atau memandang sesuatu. Keserakahan berarti pula: menghalalkan segala cara. Kolumnis ‘The New York Post’  Ray Kerrison pernah mengatakan seperti ini tentang Madonna:

 

“She will do anything, say anything, wear anything, mock anything, degrade anything to draw attention to herself and make a buck. She is the quintessential symbol of the age; self indulgent, sacrilegious, shameless, hollow.”

 

Terjemahanku:

 

“Ia akan melakukan apapun, mengatakan apa saja, memakai apa saja, pura-pura meniru apa saja, mendegradasikan apa saja untuk menarik perhatian pada dirinya dan menguntungkannya. Ia adalah simbul paling murni dari egoisme, tipe pelanggar susila, tak punya rasa malu, palsu”.

Michael Ignatieff  mengatakan:

 

“I don't mind that I see her face on every magazine cover; I certainly don't mind that she is obscene; I don't even mind that she can't sing, can't dance, can't act and is nonetheless the most famous person on the planet. What I can't stand about Madonna is that she thinks she's an artist”.

 

“Saya tak keberatan bahwa saya melihat wajahnya di setiap sampul majalah; saya sungguh tak keberatan  bahwa ia  cabul; saya bahkan tak peduli bahwa ia tak bisa menyanyi, tak bisa menari, tak bisa akting dan meskipun adalah orang yang paling terkenal di planet ini. Apa yang tak saya pahami tentang Madonna adalah bahwa ia mengira bahwa dirinya adalah seorang artis”.

 

 

Dan filsafat Madonna sebagai selebritis mewakili kalangan borjuis yang tujuan hidupnya adalah mengumpulkan kekayaan dan mencari kesenangan hidup. Filsafatnya pastilah filsafat hedonisme, filsafat moralnya adalah materialisme. Dan para pengamat studi kultural menyebutnya sebagai ‘material girl’. Pada kenyataannya, ia selalu mengatakan tentang apa yang dilakukannya, “Hei, ayolah, jangan terlalu serius tentang segala sesuatu, ayo bersenang-senang” (Hey, come on, don't get too serious about things, let's have fun).

Sebagaimana yang sering kita lihat bahwa kalangan artis-selebritis di Indonesia adalah mereka yang begitu mudahnya bergonta-ganti pasangan, pandangan itu juga diperkuat oleh pernyataan Madonna tentang hidupnya. Madonna mengatakan: “Kadang aku merasa jijik karena aku suka ganti-ganti pasangan. … Kamu mengambil yang kamu dapat lalu pindah ke lainnya” (Sometimes I feel guilty because I like travel through people. ...You take what you can and then move on).

Ya, begitulah. Bagaimana kita tak jijik dengan orang yang hanya mengerjakan sesuatu untuk kesenangan dirinya sendiri, mengajari orang-orang untuk cuek dan tidak berperan bagi orang lain. Orang yang hanya memikirkan kesenangan dirinya secara vulgar tak lebih dari jenis spesies rendahan (binatang) yang hidup hanya didasarkan pada instink biologisnya saja. Masalahnya, manusia adalah makhluk yang hidup dengan menggunakan pikiran dan hatinya, rasio (akal) dan perasaannya. Kamu tak bisa hidup enak-enakan pada saat dunia yang kamu hidupi penuh dengan permasalahan (penindasan, perang, kelaparan, bencana alam, pemanasan global, wabah penyakit).

 

Cranbraries dan The Corrs

Mungkin aku waktu itu memanglah orang yang “berkacamata kuda” atau melihat segala sesuatu secara hitam putih. Masalahnya adalah bahwa dunia ini tidak terdiri dari satu. Kejijikan yang meraja pada  kalangan artis-selebritis adalah sejenis kekanak-kanakan. Dan kekanak-kanakan adalah fase kehidupan yang nantinya akan berubah jadi kedewasaan.  Artis-selebritis tidak satu, bukan hanya Madonna—mungkin untuk ukuran sekarang juga bukan hanya Dewi Persik atau Yulia Peres.

Tentu saja selalu ada pengalaman konkrit dan perjumpaan nyata yang akan merubah cara pandang seseorang. Saat seorang kekasih itu hadir  dalam hidupku, ia menawariku untuk melihat dunia secara berbeda. Dan dia memberiku kaset berisi lagu-lagu. Ada dua, Cranbraries dan The Corrs, keduanya adalah grup musik dari  negeri Britania. Mendengarkan musik, tentu saja, akan membuat kamu mencari tahu siapakah penyanyinya, dari mana asalnya, dan bagaimana kehidupannya.

Sebagai seorang yang mencintai puisi dan kata-kata melebihi segalanya, tentu saja aku  selalu menyelidiki  kata-kata yang diucapkan sebagai lagu: lyrics. Konon lirik lagu merupakan jiwa dari penyanyi atau penciptanya—kalau kita belajar teori diskursus (wacana) atau mempelajari Semiotika, kita tentu paham bahwa kata-kata adalah pandangan hidup, bahasa adalah filsafat.

Dari lirik-liriknya, lagu-lagu Cranbrarries bukan hanya bernuansa kemanusiaan universal, tetapi hujatan dan perlawanan. Ide anti-Perang, cinta lingkungan, hak-hak anak, dan kritik terhadap budaya popular yang dekaden diangkat. Dalam lagu yang berjudul  Zombie’, misalnya, Dollores (perempuan vokalis Cranbraries) melantunkan suara-suara menolak kekerasan perang yang membuat manusia menjadi bodoh dan mirip ‘mayat hidup’. Perang dianggap sebagai kekerasan yang merusak jiwa, bahkan yang ditakutkan Cranbraries akan sangat fatal karena menularkan ideologi kekerasan  ke dalam kepala anak-anak. Perang menyebabkan kebisuan kemanusiaan. Anak-anak telah dirampas dari peradabannya:

 

Another head hangs lowly,
Child is slowly taken.
And the violence caused such silence,
Who are we mistaken?

Tema anti-Perang juga diusung  dalam lagu “Bosnia”, lagu yang dibuat untuk menggugat pasukan sekutu dan intervensi Negara-negara imperialis ke wilayah Balkan.

 

 

Bosnia was so unkind.
Sarajevo changed my mind.
And we all call out in despair.
All the love we need isn't there.
And we all sing songs in our room.
Sarajevo erects another doom.
… …

Sure things would change if we really wanted them to.
No fear for children anymore.
There are babies in their beds,
Terror in their heads,
Love for the love of life.

Lagi-lagi, Cranbraries begitu peduli terhadap anak-anak.  Dalam perang anak-anaklah yang paling banyak dikorbankan karena menghancurkan  kehidupan berarti merebut peradaban dari mereka. Dan Cranbraries selalu mengajak kita untuk merenungkan segala sesuatu dalam hidup ini sebelum para pengambil kebijakan (atau siapapun) melakukan sesuatu.  Bencana terjadi karena ulah manusia itu sendiri, mereka yang tamak yang tak peduli pada lingkungan dan sesame manusia. Dalam lagu “Time is Ticking out” dilantunkanlah ajakan untuk bersikap dengan penuh pertimbangan dan menunjukkan bukti-bukti bencana kibat ulah tangan-tangan keserakahan:

 

 

Ada baiknya kita memikirkan perkataan yang kita ucapkan

Ada baiknya kita memikirkan permainan yang kita jalankan

Dunia kita ini bulat

 

Ada baiknya kita memikirkan konsekuensinya

Ada baiknya kita pertimbangkan akibat globalnya

Waktu terus berjalan,waktupun berjalan

 

Bagaimana dengan  Chernobyl?
bagaimana dengan sinar radiasi nuklir?
kita tak tahu, kita tak tahu

Bagaimana dengan pemiskinan?
Keserakahan, bangsa manusia?

Kita tak tahu, kita tak tahu

Bagiku Cinta adalah segalanya

Bagiku cinta adalah segalanya

 

Waktu terus berdetak

 

Sepertinya kita memasang lapisan ozon

Mengerankan jika para politisi peduli

Dan waktu berjalan, waktu berjalan

 

Lalu bagaimana dengan anak-anak kita?

Adakah yang tersisa untuk mereka?

Kita tak tahu, kita tak tahu

Bagiku Cinta adalah segalanya

Bagiku cinta adalah segalanya

Ah, mereka butuh oksigen,  mereka butuh oksigen

Bagiku Cinta adalah segalanya, bagiku Cinta adalah semuanya

 

Waktu terus berdetak

Waktu berdetak.

 

 

 

Sedangkan, larik-lirik Corrs mengangkat tema-tema cinta, tetapi bukan cinta kacangan yang cengeng dan dekaden, juga ada lirik-lirik yang sangat puitis dan mendalam tentang hidup. Betapa puitiknya, bacalah lirik yang aku terjemahkan  secara bebas ini:

 

Sayap Kecil

 

Sekarang perempuan itu berjalan melalui mega

Dengan cara pandang sirkus

Yang berlari liar

Lalat-lalat dan zebra

Dan kunang-kunang dan dongeng-dongeng

Semua yang pernah ia pikirkan adalah mengendarai angin…

 

Ketika aku sedang sedih ia datang padaku

Dengan selaksa senyum

Ia berikan padaku, kebebasan

“Baiklah, baiklah”, katanya, “Ambilah dariku semua yang engkau inginkan

Apapun yang engkau mau”.

 

Terbanglah sayap kecil, terbanglah

 

 

Tidak banyak pemusik yang mau melantunkan lagu seperti itu. Setahuku, lagu “Little Wing” itu pernah dinyanyikan oleh Jimmy Hendrix. Tetapi dilantunkan oleh The Corss dengan nada yang lebih melo dengan suara vocal Caroline yang merdu-mendayu begitu meresap di hati, membuat hatiku bergetar saat mendengarnya.

The Corrs nampak hirau pada tema-tema kemanusiaan. Aku ingin menunjukkan lirik puitis lainnya yang, menurutku, cukup penting untuk ditunjukkan di sini. Lagu yang berjudul “No Frontiers” (Tanpa Batas-batas) yang dilantunkan secara saut-sautan oleh Caroline dan Sharon ini menandai pemikiran universalnya soal hidup dan kehidupan:

 

 

[SHARON:]
Jika hidup air dan hatimu adalah perahunya

Dan jadilah air, Sayang, lahirlah untuk terapung

Dan jika hidup adalah angin liar

Yang berhembus kencang dan meninggi

Dan hatimu terbentang untuk terbang

Surga Tahu bahwa tak ada batas-batas dan aku telah

Melihat surga di matamu


[CAROLINE:]
Dan jika hidup adalah ruangan di mana di dalamnya kita harus menunggu

Dikelilingin orang-orang yang jarinya memegang pintu gerbang yang terbuat dari gading

Di mana kita masih bernyanyi hingga senja

Tentang ketakutan dan keyakinan
dan kita menempatkan semua orang yang mati

Di dalam petinya masing-masing

 

[CAROLINE DAN SHARON: ]
Di matamu tiba-tiba nyanyian itu redup

Di malam yang gelap

Maka rasakan hangatnya nyala api

Yang membuat kita bertahan  hingga hari ini

Ketika ketakutan muncul ketika ada yang kehilangan pegangan

Dan surga punya jalannya sendiri-sendiri

 

Surga tahu bahwa tak ada batas-batas

Dan telah kulihat surga di matamu


[
SHARON: ]
Jika hidup adalah tempat tidur yang kasar

Yang di atasnya penuh kerikil dan onak duri

Dan semangatmu membudak pada cambuk dan penjara orang-orang


[ CAROLINE: ]
Dimana rasa haus dan laparmu

Terhadap keadilan dan kebenaran

Dan hatimu adalah nyala yang murni

Yang menyinari tiap malam


[ BOTH: ]
… ketika semua berjalan secara harmonis

Dan engkau tahu apa yang ada di hati kami

Mimpi akan menjadi kenyataan

 

Surga tahu bahwa tak ada batas-batas

Dan telah kulihat surga di matamu

Surga tak melihat batas-batas

Dan kulihat surga di matamu

 

 

 

Bagiku lirik-lirik kedua kelompok musik itu mengagumkan. Ternyata ada potensi keindahan sejati dari produks seni popular dan para artis atau pegiat-pegiat budaya pop itu tak semata-mata harus kulihat sebagai kalangan yang tanpa idealisme. Dulu aku melihat segala yang muncul di hadapanku  melalui mekanisme kapitalistik (pasar) adalah “garbage”. Tetapi berangsur-angsur penyakit anti-budaya popular  dengan gaya pandang hitam-putih itu hilang.

Setelah kuselidiki lebih lanjut ternyata baru kusimpulkan: Apa sih di dalam masyarakat kapitalis sekarang ini yang dapat kita nikmati tanpa perantaraan mekanisme pasar? Bukankah semua kebutuhan hidupku dipenuhi oleh barang-barang dan prosduk-produk dihantarkan dihadapanku melalui mekanisme hubungan jual-beli? Jadi bukanlah pegiat seni atau produk seni yang salah, tetapi sistem hubungan produksinyalah yang salah. Dan kaupun tak bisa  melawan di luar mekanisme itu, justru engkau harus memanfaatkannya. Contoh kecil, jika aku memiliki pandangan yang berbeda soal kehidupan atau kalau aku ingin memperjuangkan sesuatu untuk mendukung kehidupan yang lebih baik dengan cara menulis buku atau artikel agar pandangan-pandanganku tersebar, bukankah aku butuh media (koran/penerbit) yang eksis karena modal?

Sebenarnya Cranbraries dan The Corrs adalah contoh kecil. Karena, tentu saja setelah aku mengerti informasi lebih banyak, para pekerja seni (artis) dan selebritis bisa menjadi pelopor dari gerakan radikal melawan budaya yang tidak beres. Terutama memang terjadi di Barat. Musik dan seni-budaya anti-Perang, misalnya, telah melekat dalam gerakan social-politik itu sendiri. Artis-selebritis adalah bagian dari ‘GENERASI BUNGA’ (flower generation), yaitu generasi yang berani menyatakan pikiran dan orientasi gerakan yang berbeda. Pertanyaan generasi tersebut diwakili oleh syair lagu The Police yang berjudul “Born in  the 50’s”: “We are the class, they couldn’t teach, cause we know better!” (Kami adalah generasi yang  tak dapat mereka didik, karena kami memahami lebih baik). Budaya dominan (kapitalisme) yang menyebar dianggap tidak mampu memberikan apa-apa karena hanya  dangkal dan beku, sedangkan kaum muda yang mampu merasakan dan mengetahui lebih baik ini menginginkan gaya hidup yang berbeda.

 

Dian Sastro, Heppy Salma, Oneng, …

Maka, belakangan aku menemukan titik terang dalam kebudayaan. Artis-selebritis bukan lagi mimpi buruk, tetapi status yang telah ada sejak lama yang kini tampil lebih indah. Ada di antara mereka yang telah tercerahkan. Bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri peran mereka. Mereka bukan hanya jadi aktifis partai politik dan LSM, mereka tak hanya menjadi pembicara dalam seminar, dan tentunya mereka tak hanya tampil di sinetron dan terdengar dari lagu-lagu. Mereka bahkan terjun langsung ke lapangan.

Jakarta,  1 Oktober 2007. Dalam aksi yang diadakan oleh massa yang menamakan diri “KOMITE AKSI BERSIHKAN MA itu saya memang datang terlambat. Ketika saya turun dari taksi, sekitar 200 meter dari kumpulan massa, orasi telah dilakukan. Dan ketika saya bergabung dalam kumpulan massa itu, saya menanyakan tentang betapa lama aksi dimulai. Salah seorang peserta aksi, yang tidak saya tahu namanya, mengatakan bahwa aksi telah dimulai setengah jam yang lalu.

Aksi sore itu tergolong istimewa karena diikuti oleh lumayan banyak orang. Cukup lumayan mengingat memobilisasi massa untuk diajak turun ke jalan di dera sekarang ini tak lagi mudah...

Yang istimewa adalah kehadiran Dian Sastro, yang sempat membuatku kaget  setengah tak percaya. Setelah seorang kawan menunjukkan tangannya memberitahuku bahwa ada Dian Sastro, terus terang aku terkejut. Kucoba memfokuskan pandangan pada seorang perempuan muda yang menutupi hampir sebagian wajahnya dengan topi yang membuat wajahnya tenggelam. Wajahnya mungil berkulit putih. Kucoba menambah daya akomodasi  pandanganku karena wajah yang  dibelai oleh sinar matahari sore itu memang agak kelihatan tak jelas jika tidak diamati secara serius. Baru aku yakin, wajah itu memang mirip dan persis dengan yang kulihat selama ini di TV, majalah, dan postersebagian teman-teman kuliahku bahkan memajang gambar  Dian sastro di kamarnya, meskipun aku tidak pernah melakukan hal yang sama.

Ternyata tidak hanya Dian yang turun ke jalan pada aksi Hari Kamis itu. Tetapi, kata kawanku (yang nampaknya begitu keranjingan pada artis-selebritis), juga ada artis lainnya. Dia menunjuk dua perempuan lainnya. Dia mengatakan padaku, Itu lho yang main di sinetron...”—aku lupa apa judul sinetron yang dikatakannya. Keduanya memang bukan artis yang tingkat popularitasnya sekuat Dian Sastro.

Belakangan aku mendengar cerita bahwa aksi yang dilakukan Hari Kamis itu ternyata memang sering diikuti oleh para artis-selebritis. Sebut saja artis yang akrab di telingaku adalah Rieke Diah Pitaloka, Hepi Salma, serta artis-artis lainnya yang bermaksud memberikan solidaritas bagi  perjuangan menuntut keadilan dan HAM.

Berikut ini selebaran aksi di depan Kejaksaan Agung sore itu:

 

MANIFESTO KEADILAN



Keputusan Mahkamah Agung menghukum majalah Time dan memenangkan Suharto, membebaskan pembunuh Munir, serta membebaskan para koruptor adalah contoh-contoh telanjang dari pengkhianatan reformasi. Benteng terakhir penjaga keadilan itu bukan  saja telah mempermainkan mandat suci keadilan, tetapi sekaligus telah menghamba kembali pada kepentingan kekuasaan Orde Baru.

Penghambaan itu bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk mengembalikan politik lama, memberangus kebebasan pers, dan menutupi-nutupi pelanggaran HAM, justru dalam kondisi di mana rakyat  sangat mendambakan  keadilan dan kebenaran.

Keangkuhan Mahkamah Agung bukan sekedar tampak pada kegilaan lembaga itu dalam hal pengaturan administrasinya sendiri  (penentuan sesukanya dalam hal gaji dan masa jabatan), tetapi juga pada keangkuhannya untuk  menampilkan diri sebagai lembaga yang tak tersentuh aturan bernegara (seperti dalam penolakan pengauditan oleh BPK).

Tentu saja kondisi itu berkaitan juga dengan kondisi umum kehidupan politik kita yang makin tanpa arah dan tanpa etika. Keseluruhan gerak reformasi memang sedang  dalam bahaya, karena kepemimpinan politik tidak mampu memperlihatkan ketegasan habis-habisan dalam soal pemberantasan korupsi Suharto dan kroni-kroninya, dan dalam soal penegakan Hak Asasi Manusia

Maka dengan ini kami menuntut Pembersihan Total Mahkamah Agung dari para pemerkosa keadilan, penjual hukum dan orang-orang berwatak Orde Baru.


Jakarta,  1 Oktober 2007

 

KOMITE AKSI BERSIHKAN MA

Kami yang menandatangani:
Bagus Takwin - Usman Hamid - Rachland Nashidik - Robertus Robet - Nugroho Dewanto - Dian Sastrowardoyo - Ahmad Salman - Abdul Qodir Agil - Donny Ardyanto - Rocky Gerung - Ikravany Hilman - Harlans M. Fachra - Fajrimei A. Gofar - Andi Achdian -  A. Rahman Tolleng - Daniel Hutagalung - Otto F. Pratama - Heru - Rusdi Marpaung - Rafendi Djamin - Ahmad Taufik - Robby Kurniawan - Daddi H. Gunawan - John Muhammad - Winarso - Nono Marijono - Rizal Valefi - Agus Muhajirin

 

 

 

 

Ternyata kutahu itu adalah aksi pertama yang dilakukan Dian Sastro karena pada hari berikutnya, di sebuah situs, aku membaca berita artis ini yang mengomentari keterlibatannya dalam aksi tersebut. Di berita itu Dian mengatakan: "Demo yang kemarin itu, aku cuma diajak ikut. Kebetulan aku juga prihatin dengan hukum di Indonesia yang terkesan lamban. Banyak kasus-kasus hukum yang tidak selesai. Seperti kasus Munir yang penanganannya kurang maksimal. Aku sempat kaget waktu disuruh orasi, bingung. Aku merasa nggak kompeten ngomong. Aku  usahakan ikut demo karena ini untuk kebaikan negara juga. Memang, proses perbaikan lama, nggak langsung instant. Sekarang kita yang muda yang harus bergerak," pungkasnya (lihat http://www.okezone.com/index. php?option=com_content&task=view&id=52179&Itemid=50 ).

Dian Sastro, Rieke Diah Pitaloka, Franky Sahilatua, Ayu Diah Pasa, Iwan Fals, … kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri mereka ikut aksi demontrasi menggugat kebijakan pemerintah yang melanggar HAM. Mereka nampak bersahaja harti ini. Cranbraries dalam lagunya yang berjudul “Daffodil Lament” (Ratapan Bunga Bakung) mengatakan:


Has anyone seen lightning?
Has anyone looked lovely?
And the daffodils look lovely today,
And the daffodils look lovely today,
Look lovely today...

 

Ya, bunga bakung itu kelihatan indah kini. Apa yang dulu nampak buruk, kini ada yang kelihatan indah. Aku yakin peran humanis mereka akan membawa dampak yang besar bagi perubahan kebudayaan menuju revitalisasi kemanusiaan kita yang hingga saaat ini masih destruktif.

Jadi aku tak  perlu pesimis karena sekarang ini ada kecenderungan baru dari posisi dan peran artis-selebritis. Tak sedikit selebritis yang mulai menyadari pentingnya berperan dalam ranah social politik untuk membangun bangsa dengan caranya yang partisipatoris dalam kegiatan positif yang bernuansa kemanusiaan dan baahkan gerakan kerakyatan. Mereka adalah beberapa artis yang memang memiliki partisipasi kreatif dan produktif dalam hari-harinya. Kalangan artis ini memiliki peran sosial, tidak semata-mata sibuk untuk mencari kesenangan diri dan menghibur masyarakat.

Mereka memanfaatkan waktu luang untuk menulis buku, terlibat dalam organisasi sosial dan acara-acara kemanusiaan. Artis seperti Rieke Dyah Pitaloka, Heppy Salma, Franky Sahilatua, Iwan Fals, Olga Lidya, Angelina Sondakh, Wanda Hamidah, Dede Yusuf, Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, dan sederet nama-nama lain dikenal bukan hanya karena kemampuan mereka menghibur masyarakat dan mencari kesenangan diri. Tetapi juga dikenal sebagai aktivis, politikus, penulis, dan bahkan juga ada yang disebut intelektual.

Ada perkembangan menarik saat ini ketika banyak para artis yang tertarik untuk menulis buku, meskipun sekedar tulisan tentang kisah hidupnya. Itu adalah salah satu pelarian kreatif yang dapat mencegah kepenatan hari-hari mereka yang pada kenyataannya memang membuat penat, apalagi jika hanya diikuti dengan alur nafsu untuk sekedar  mencari kesenangan dan bukannya untuk membentuk eksistensi diri untuk dapat berperan bukan hanya sebagai tukang pamer gaya hidup, tetapi juga ikut mendidik masyarakat. (*)

 

Jakarta, 30 Desember 07

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 


PEREMPUAN DALAM SASTRA

 

Oleh: Nurani Soyomukti

 

 

Dalam kesusastraan Indonesia, masih sedikit kaum perempuan yang berkecimpung di bidang sastra. Dunia sastra masih didominasi oleh laki-laki. Tak heran jika cara pandang bias jenderpun terjadi. Ideologi patriarki yang mendominasi masyarakat kita nampaknya juga turut mempengaruhi cara pengarang dalam menempatkan tokoh perempuan dalam karya-karyanya.

 

Kontradiksi pokok masyarakat Indonesia mulai dari feodalisme (yang masih tersisa dan belum hancur), kapitalisme-imperialistik, dan militerisme adalah tantangan terbesar bagi kemerdekaan perempuan. Struktur sosial tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk penuh dosa, dilemparkan secara nista dari wilayah produktifnya ke dalam domain domestik: pernikahan seperti pelacuran yang berpilar pada kebaikhatian dan kepasrahan perempuan. Dalam bukunya Gadis Pantai, Pramoedya Ananta toer menceritakan perempuan tidak lebih menjadi media pelatihan pria menuju kesejatiannya untuk menikahi perempuan lainnya yang lebih berderajat atau bangsawan, akan tetapi tetap dijadikan perhiasan dalam sangkar emas, tetap menjadi alat untuk memproduksi keturunan, tidak lebih dari itu. Meskipun tragis, melalui karya ini Pram menampilkan perempuan yang memberontak. Tokoh Srintil adalah gadis yang melawan kesewenangan-wenangan terhadap dirinya justru dengan kesadaran untuk melakoni hidup sebagai seorang ronggeng yang dianggapnya adalah pilihan untuk memberontak.

 

Humanisme realis Pram memang cukup kritis dalam melihat  keberadaan struktur sosial yang membelenggu kaum perempuan.  Dan karena itu pulalah, syarat-syarat munculnya kesadaran akan ketertindasan selalu dimiliki kaum perempuan. Dan Pram menemukan tokoh-tokoh perempuan yang tercerahkan dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Tradisi inilah yang sebenarnya harus dikembangkan dalam karya sastra agar berguna bagi kemanusiaan.

 

Tokoh Ibu yang Mencerahkan

Tokoh Nyai Ontosoroh dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) adalah gambaran lain dari perempuan yang mengalami pencerahan; sosok yang bersahaja. Ia mirip dengan seorang ibu dalam novel “Ibunda”-nya Maxim Gorky yang memahami dan mengerti kenapa anaknya, dan anak-anak muda lainnya, harus berjuang membebaskan belenggu ketertindasan. Bahkan sang Ibu tersebut bukan hanya merelakan anaknya dengan tangis keharuan atas jiwa kepahlawanan. Seorang Ibu dalam novel Gorky digambarkan sebagai orangtua yang bertindak: mengirimkan surat-surat ke penjara, membagi-bagikan selebaran secara sembunyi-sembunyi.

 

Secara tegas, Ibunda dalam karya Gorky digambarkan sebagai sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia  bersama rakyat miskin lainnya hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Ibunda menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat, yang memperlakukan istri secara amat kejam. Setelah suaminya meninggal banyak keadaan yang berubah. Ia masih punya anaknya yang bernama Pavel, yang kemudian menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu.

 

Keterlibatan Pavel dalam politik dimulai ketika ia memiliki kebiasaan baru, yaitu membaca buku dan interaksinya dengan para aktivis yang ditemuinya di tempat lain. Awalnya, ketika dilihatnya bahwa kepribadian, komitmen, dan (utamanya) tujuan hidup anak laki-laki itu berubah, Sang Ibunda cemas dan khawatir padanya. Tetapi akhirnya ia mulai dapat memahami hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya setelah kawan-kawan Pavel menyusun sebuah gerakan kemanusiaan yang bahkan juga dibicarakan di rumahnya. Bahkan Sang Ibunda haru karena sekecil kumpulan pemuda tidak mabuk-mabukan ketika mengadakan pertemuan di antara mereka. Padahal, di daerah tempat ia tinggal, bila seorang pemuda telah usai kerjanya di pabrik dan berkumpul dengan teman-temannya, kegiatan yang normal adalah minum-minum sampai mabuk. Hal baru yang lainnya adalah bagaimana seorang gadis kawan Pavel mengorbankan dirinya, waktunya, hanya untuk sesuatu yang abstrak, yang disebut cita-cita.

 

Maka, dalam novel Gorky ini seorang ibu digambarkan sebagai sosok yang produktif dan aktif dalam sejarah untuk perubahan masyarakat. Bukan seorang ibu yang cengeng dan hanya menginginkan kesuksesan pribadi anaknya. Ibunda dalam novel Gorky ini adalah yang memiliki cinta kasih universal, menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar. Ketika Pawel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamflet ke kalangan buruh dan tani. Kemudian ia dituduh pencuri oleh seorang mata-mata, dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan “bahkan samudera pun tak kan mampu menenggelamkan kebenaran”.

 

Pengaruh Maxim Gorky dan sastra realisme sosialis di Indonesia memang melekat pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang telah meninggal dunia di tahun ini beberapa waktu lalu. Melalui karya terbesarnya, tetralogi Bumi Manusia, Pram juga mengangkat sosok perempuan sekaligus seorang ibu di masa penjajahan yang banyak melontarkan pemikiran yang maju dan mencerahkan.

 

Oleh Pram tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi Pram juga seorang yang karena pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita bumi putera yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.

 

Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Tetapi bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: "Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!"

Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Seorang ibu, Nyai Ontosoroh, telah mendorong seorang pemuda untuk berpartisipasi dalam mendukung perubahan di sebuah negeri yang memang hendak meninggalkan jaman kegelapan. Seorang ibu dalam masyarakat transisi memiliki peran yang kuat, tidak lemah dan hanya tunduk patuh serta jatuh ke dalam kubang posisi dan peran domestik, apa lagi sampai menjadi objek kekerasan suami.

 

Karya-karya semacam itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini. Perjuangan memperjuangkan hak-hak perempuan dan menuntut partisipasi aktif dan produktif bagi kaum perempuan adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar. Para penulis dan pengarang (sastrawan) harus mengagendakan aktualisasi komitmen sosial kepengarangannya, terutama dari kaum perempuan sendiri yang seharusnya berada di garis depan dalam dunia kesusastraan untuk menuliskan posisi dan peran yang maju dan mendobrak budaya patriarki.

 

Akhir-akhir ini memang banyak karya sastra yang menjadi tempat bagi kaum perempuan untuk mendobrak kebudayaan lama Indonesia yang membelenggunya. Bukan lagi lelaki seperti Pram yang hadir,tetapi justru kaum perempuan sendiri yang telah menghasilkan karya sastra untuk melontarkan pemikirannya menamai relasi kesetaraan. Sebut saja Ayu Utami yang dengan Novel “Saman” dan “Larung”-nya berhasil merebut diskursus baru tentang perempuan yang memiliki hak atas tubuh dan pilihan ideologis atau keberpihakan. Nama lain seperti Jenar Mahesa Ayu, Dewi “Dee” Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, dll turut membuka kembali kebekuan paham lama. Mereka melanjutkan  upaya perlawanan yang dirintis oleh Kartini. Melalui sastra pencerahan dimulai dan paham lama ditinggalkan.

 

Karya-karya tersebut turut mengiringi gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Capaian legal dan formal saja tidak cukup. Memang, dibutuhkan sebuah penempatan perempuan dalam perjuangan untuk menghadapi dan menghancurkan tatanan penindasan yang kini didominasi neoliberalisme dan sisa-sisa feodalisme. Perjuangan perempuan tidak boleh eksklusif, tetapi harus terlibat dalam perjuangan massa rakyat, mengarahkan serangan ideologis dan programatiknya untuk menyerang akar permasalahan. Sebagaimana kita rasakan, karya-karya sastra tersebut turut mewarnai dan memberikan nuansa estetis pada gerakan sosial dan (bahkan) politik untuk menghancurkan sumber-sumber sosial yang menyebabkan ketertindasan perempuan.***

 


Blog EntryDec 21, '07 7:29 PM
for everyone

Ibuku, Ibu Pavel, dan Ibu Minke


Oleh: Nurani Soyomukti



Ibuku ingin kukenang di pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 2007 ini. Mantan pacarku, Ratih, yang belum jadi seorang Ibu karena ia menolak anak dan terpaksa harusmembunuh dua janin di perutnya, juga ingin mengenang Ibunya. Mungkin semua orang—yang tentu saja pernah menyandang status “anak” dalam hidupnya—juga ingin mengenang dan mengingat jasa Ibu-nya masing-masing.

Tapi kita memiliki Ibu yang berbeda-beda, yang sama bahwa mereka adalah sama-sama makhluk manusia yang berjenis kelamin perempuan—yang sampai saat ini masih dianggap lemah dan tak berkualitas daripada kaum pria. Ibu-ibu memang merupakan mereka yang dianggap paling penting dalam memproduksi kehidupan baru melalui proses kelahiran yang terjadi pada organ tubuhnya—meskipun benih-benih itu tidak mungkin muncul jika tidak ada pembuahan dari zat hidup yang didapatkan dari tubuh lelaki. Laki-laki dan perempuan sama-sama materi kehidupan, bahkan tak lebih dari material yang sama yang menyusun kehidupan.

Tetapi yang membuat kita ingin mengenang Hari Ibu adalah bahwa, fase akhir dari proses menuju kelahiran lebih banyak terjadi di dalam tubuh Ibu. Bapak hanya berperan dalam waktu yang singkat, menyemprotkan spermanya ke sebuah tempat—yang konon gelap dan basah—hingga terjadi pembuahan. Penyemprotan itu terjadi dalam waktu yang singkat. Dari pembuahan antara sperma dan sel telur itulah, kalau beruntung, akan terjadi sejenis kulaitas material yang baru sebagai bahan-bahan kehidupan.

Materi itu akan tumbuh, yang selama (rata-rata) 9 bulan, yang kalau sehat dan didukung lingkungan akan mendekam dulu di dalam perut perempuan. Kalau ia selamat ia akan lahir melewati vagina—bukan lewat anus, lubang hidung, lubang telinga, mata—atau kalau ada gangguan untuk keluar lewat vagina bisa melalui perut yang dibedah. (Meskipun sekarang kebanyakan Ibu lebih menginginkan mengeluarkan bayi lewat pembedahan perut—atau dinamakan bedah Caesar—dengan alas an agar vaginanya tetap sempit: kalau lebar karena dilewati benda yang berukuran besar, tentu saja melebihi penis yang biasa keluar masuk vagina, tentu saja hubungan seks tak akan lagi nikmat: laki-laki, suami, menginginkan vagina yang sempit karena yang sempit itulah yang membuat gesekan antara kedua daging itu bersentuhan. Vagina yang lebar akan ditinggalkan penis sempit yang egois).

Dan, sekali lagi yang membuat sosok Ibu paling menentukan bagi kelahiran adalah proses yang lama dan berat untuk mengeluarkan bayi, kehidupan baru itu. Kadang ada perempuan yang tak sabar, takut, dan lain sebagainya. Hingga ia tak mau melahirkan kehidupan baru yang jelas-jelas menjadi benih kehidupan, dan memang sudah menjadi kehidupan. Ia terpaksa membunuhnya pada saat benih itu berumur dua minggu, sebulan, bahkan lebih. Dan tidak sedikit perempuan yang tidak merasa berdosa apa-apa atas tindakan itu. Perempuan itu takut menanggung resiko, atau ia masih ingin mengeksploitasi kenikmatan tubuhnya sendiri dengan mencari laki-laki yang berbeda-beda, tidak memikirkan benih-benih dari hubungan yang ada.


***

Ibuku bukan contoh perempuan seperti itu. Ibuku memang pernah keguguran sebelum melahirkan aku, tapi bukan menggugurkan janinnya. Dalam bahasa keluarga feudal, yang gugur itu adalah kakakku. Ibuku, meski bukan seorang yang menempuh pendidikan tinggi, tapi dilahirkan oleh orangtua yang terdidik, ayahnya adalah seorang sekretaris desa (carik). Konon dia, kakekku itu, adalah sosok yang cerdas, tampan dengan kulit putih dan berperawakan bersih, dan disukai banyak orang.

Mungkin Ibuku kurang beruntung karena ia dilahirkan di lingkungan yang feudal, dengan karakter lingkungan yang patriarchal, yang memandang perempuan tiada guna berpendidikan tinggi toh pada akhirnya juga menjadi pelayan suami. Dan suami Ibuku, yang berarti ayahku, memang seorang laki-laki yang ingin dilayani, serakah, suka bersenang-senang—dan gara-gara kesukaannya pada kesenangan (makanan enak, gila pijian dengan menghambur-hamburkan untuk diberikan pada orang lain, bermain judi—meskipun ia juga seorang seniman tradisional) pada akhirnya harta-bendanya (tanah, rumah, kebun, sawah, dan bahkan barang-barang elektronik dan teknologi yang waktu itu jarang dipunyai oleh orang lain) habis ludes.

Karakter dan tindakan ayahku itulah yang membuat Ibuku menjadi seorang yang tangguh, dia bukan seorang pasrah yang kalah dengan nasib. Karena tidak mau tergantung pada laki-laki sepenuhnya (ayahku), bahkan ingin menolong keadaan yang gawat, iapun bekerja keras: memproduksi minyak goreng yang dibuat dari kelapa yang diambil dari pohon yang tumbuh pada tanah yang masih tersisa, juga beli dari orang lain di desa kami. Ibuku memiliki beberapa pembantu—untuk tidak menyebut “buruh”—dan ia mendapatkan cukup uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Itu dilakukan sebelum aku lahir.

Pada saat aku tumbuh, watak dan sikap ayahku tidak berubah. Kesenangannya pada tindakan menghabiskan kekayaan tidak pula berkurang. Bahkan perjudian juga dilakukan di rumah. Aku masih ingat waktu itu, kira-kira aku masih berumur 1 tahun, kira-kira kelas 1 SD: Ruang tamu di rumahku dipenuhi banyak orang, mereka berjudi dengan penuh keriangan. Suatu saat, salah satu penjudi yang juga seorang aparat di desaku memanggil dan melambaikan tangannya padaku: Ia menyuruhku mendatanginya. Aku mendekat, dan dia memberikan uang Rp 1000,-, jumlah yang tak kecil untuk ukuran saat itu, karena untuk uang jajan sekolah saja tiap harinya Ibu hanya memberiku Rp 25,-. Aku masih ingat, waktu itu orang yang di desaku dipanggil Bayan Mali itu mengatakan padaku: “Le, kamu nanti jangan meneruskan perjuangan ayahmu ya… Lihatlah, dia bukan penjudi yang baik atau beruntung, ia kalah melulu”.

Aku hanya terdiam dengan gaya anak kecil yang belum begitu dalam makna kehidupan. Aku melirik ayahku yang sedang asyik menata kartu menebak-nebak kartu apa yang didapat dan berharap ia mendapatkan kartu yang dingingkan. Lalu aku masuk ke belakang, melewati ruang tengah dan menuju di dapur, Ibu dan seorang perempuan (tetangga) sedang sibuk. Mereka berdua sibuk memasak untuk para penjudi yang ada di ruang tamu depan. Memasakkan orang yang sedang berjudi memang tidak rugi kalau dihitung secara ekonomis, sebab rumah yang dipakai akan mendapan—apa yang disebut—“uang cu’an”, yaitu uang yang didapat dari pemotongan yang didapat dari pemenang dalam tiap putaran. Uang dari hasil ini lebih banyak daripada biaya yang dikeluarkan untuk menjamu tamu (para penjudi), baik nasi, snack/jajan (biasanya gorengan), kopi, the, atau makanan-makanan lainnya.

Ya, nenek moyangku adalah orang kaya, maka kami hidup dalam di lingkungan orang yang bersenang-senang dengan cara yang buruk. Ya, aku hidup di sebuah budaya di mana orang-orang tak berpikir rasional, kecuali mengumbar kesenangan dengan berjudi. Dan karena judi inilah, pada akhirnya, kekayaan itu habis. Syarat-syarat material bagi pertumbuhan aku dan Mbak-ku (kakak perempuan) tidak mencukupi lagi untuk disebut sebagai orang yang mapan.

Maka, Ibuku adalah orang yang tabah, bekerja keras, dan dia juga sekaligus perempuan yang bersejarah dalam hidupku. Meski aku tak dapat mengingat bagaimana keras nafasnya ia saat ingin mengeluarkan aku dari perutnya melalui vaginanya, tapi aku dapat membayangkan bagiamana itu terjadi. Ia bercerita bahwa sebelum ada tanda-tanda tentang kelahiranku (tanda-tanda bahwa ia hamil), ia bermimpi bahwa tiba-tiba di dapurnya ia didatangi oleh “ayam Jali”, ayam jago Jawa yang bulunya agak ikal, berbeda dengan ayam jago biasa. Warna bulunya putih, dan ibuku memberinya makanan, menebarkan beras agar ayam itu makan. Lalu ayam itu pergi mengakhiri mimpi Ibuku.

Menurut cerita Ibuku, aku adalah bayi yang serakah. Karena pada saat aku menyusu, aku selalu nangis jika tidak di susui dengan kedua payudara Ibuku. Pada saat aku hampir bisa bicara aku selalu menangis sambil berkata merengek dan berteriak, “Mik Yoyo, Mik Yoyo (Mimik loro… yang dalam bahasa Jawa: “Minum dua”—artinya minta semua payudara). Dan nampaknya hingga saat ini aku memang berwatak serakah sebagai manusia, mudah bosan, tidak puas pada saru hal, dan semuanya ingin terpenuhi—meskipun bukan untuk hal-hal yang biasa diinginkan orang. Kata sahabat dekatku, sebenarnya aku bukan orang yang keinginannya gakl normal: aku tak pernah beli pakaian (baju), sebagaimana aku jarang mandi, aku tak tertarik (dan tak pernah berkeinginan) membeli barang-barang sebagaimana dimiliki pemuda normal, misalnya ingin beli radio, ingin beli baju baru yang trendi. Bahkan dapat dikatakan gairah hidupku untuk sukses secara material (ingin kaya, hidup enak, punya istri cantik, dll) tidak pernah ada, dan kalaupun ada itu terjadi pada saat aku pacaran dengan Ratih Indri Hapsari, yang memaksa aku harus hidup seperti orang normal, karena kalau aku jadi suaminya maka aku harus berkecukupan, normal. Bahkan untuk urusan mandi, ganti baju, dan lain-lain aku terpaksa harus dipaksa atau diingatkan secara keras dan kadang intimidatif.

Tapi barangkali aku tetap serakah dalam hal seksualitas. Aku selalu menginginkan seks dengan kekasihku dengan intensitas yang sangat tinggi, bahkan bisa jadi aku maniac. Dan karena intensitas yang tinggi, sering, dan dengan syarat-syarat material (kemampuan financial) yang tidak memadai itulah aku cepat bosan, frustasi, dan dalam hal tertentu juga merasa tegang. Dan kalau tegang, hiburannya hanyalah menulis. Menulis mungkin adalah seksualitasku yang paling terdalam dan tertinggi. Di luar itu, barangkali adalah seksualitas kacangan, seks dengan sesuatu yang remeh, dengan orang yang remeh, sesuatu yang membosankan—karena hanya berakhir dengan orgasme fisikal. Dan ketika hal itu diulang-ulang, ternyata aku sadar bahwa orang yang kita ajak berseksualitas adalah orang yang kedalama hidupnya berbeda.

Tentu saja Ratih bukanlah Ibuku, dan dengan dia mungkin aku akan menjadi orang yang mirip bapakku, serakah dan ingin menangnya sendiri. Apalagi jika hubungan akan dibawa ke pernikahan, suatu hal yang sangat menakutkan dalam hidupku. Suatu hal yang akan menurunkan posisi dan peranku, karena pada akhirnya aku akan sibuk memikirkan suatu hal yang temeh dan sederhana, dan akan membuat aku sibuk dan akhirnya melupakan kehadiranku dalam sejarah: berpartisipasi secara social bukan dengan jalan dari atas, tetapi dari peran penyadaran yang berposisi sebagai pihak berlawan—bukan berkuasa.

Konsekuensiunya memang berat. Apalagi jika aku teringat Ibuku yang menginginkan anaknya sukses mengejar kejayaan individual, bukan sukses karena dapat berperan dalam sejarah. Awalnya Ibuku memang tak paham pada apa yang kulakukan. Tetapi pada akhirnya dia paham, tentu saja setelah aku tidak kelihatan secara vulgar meninggalkan pekerjaan yang dapat digunakan untuk mempertahankan hidup. Yang penting bahwa Ibuku tidak menentangku, dia tahu peranku. Hmmm, tentu saja setelah aku dapat menunjukkan bahwa aku memang bisa bertahan hidup, bahkan memberinya bantuan meskipun sedikit untuk menyokong pendapatan keluarga. Semuanya memerlukan kreatifitas. Aku tak lagi minta pada Ibuku, bahkan aku memberinya (baca: membantunya). Yang lebih penting bukan dengan pemberian materinya, tetapi dengan membuat ia mengerti apa arti keberadaanku dalam kehidupan di antara hubungan-hubungan produksi yang universal luas, dan membutuhkan keseriusan dalam berpartisipasi, bahkan totalitas. Lebih tepatnya, ia harus mengerti bahwa anaknya adalah petualang.

Dia adalah seorang Ibu(ku). Dia bukan hanya kulihat sebagai seorang perempuan, yaitu orang yang dalam banyak hal selalu minta dikasihani dan dimanja. Dia kulihat sebagai makhluk yang ada dalam dunia, yang telah menjadi perantara kelahiran dan keberadaanku. Yang jelas ia punya doa dan harap yang maju.


Ibunda Sejati

Maka Sang Ibu sejati tersebut mirip dengan seorang ibu dalam novel “Ibunda”-nya Maxim Gorky yang memahami dan mengerti kenapa anaknya, dan anak-anak muda lainnya, harus berjuang membebaskan belenggu ketertindasan. Sang Ibu tersebut bukan hanya merelakan anaknya dengan tangis keharuan atas jiwa kepahlawanan. Seorang Ibu dalam novel Gorky digambarkan sebagai orangtua yang bertindak: mengirimkan surat-surat ke penjara, membagi-bagikan selebaran secara sembunyi-sembunyi.

Secara tegas, Ibunda dalam karya Gorky digambarkan sebagai sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia bersama rakyat miskin lainnya hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Ibunda menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat, yang memperlakukan istri secara amat kejam. Setelah suaminya meninggal banyak keadaan yang berubah. Ia masih punya anaknya yang bernama Pavel, yang kemudian menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu.

Keterlibatan Pavel dalam politik dimulai ketika ia memiliki kebiasaan baru, yaitu membaca buku dan interaksinya dengan para aktivis yang ditemuinya di tempat lain. Awalnya, ketika dilihatnya bahwa kepribadian, komitmen, dan (utamanya) tujuan hidup anak laki-laki itu berubah, Sang Ibunda cemas dan khawatir padanya. Tetapi akhirnya ia mulai dapat memahami hal-hal baru yang tak pernah terbayangkan dalam hidupnya setelah kawan-kawan Pavel menyusun sebuah gerakan kemanusiaan yang bahkan juga dibicarakan di rumahnya. Bahkan Sang Ibunda haru karena sekecil kumpulan pemuda tidak mabuk-mabukan ketika mengadakan pertemuan di antara mereka. Padahal, di daerah tempat ia tinggal, bila seorang pemuda telah usai kerjanya di pabrik dan berkumpul dengan teman-temannya, kegiatan yang normal adalah minum-minum sampai mabuk. Hal baru yang lainnya adalah bagaimana seorang gadis kawan Pavel mengorbankan dirinya, waktunya, hanya untuk sesuatu yang abstrak, yang disebut cita-cita.

Maka, dalam novel Gorky ini seorang ibu digambarkan sebagai sosok yang produktif dan aktif dalam sejarah untuk perubahan masyarakat. Bukan seorang ibu yang cengeng dan hanya menginginkan kesuksesan pribadi anaknya. Ibunda dalam novel Gorky ini adalah yang memiliki cinta kasih universal, menyinari perasaan-perasaan tersulit anak-anak selama menghadapi represi kekuasaan Tsar. Ketika Pawel dan anak-anak itu satu persatu ditangkap bahkan disiksa di depan matanya, Ibunda terjun ke kancah revolusi dengan peranannya sebagai pendistribusi pamflet ke kalangan buruh dan tani. Kemudian ia dituduh pencuri oleh seorang mata-mata, dan saat sedang ditangkap polisi militer dengan kekerasan, ia teriakkan “bahkan samudera pun tak kan mampu menenggelamkan kebenaran”.

Pengaruh Maxim Gorky dan sastra realisme sosialis di Indonesia memang melekat pada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang telah meninggal dunia di tahun ini beberapa waktu lalu. Melalui karya terbesarnya, tetralogi Bumi Manusia, Pram juga mengangkat sosok perempuan sekaligus seorang ibu di masa penjajahan yang banyak melontarkan pemikiran yang maju dan mencerahkan.

Oleh Pram tokoh Nyai Ontosoroh yang dikonstruksi dan diidealisasi Pram juga seorang yang karena pengaruh pencerahan ikut mendukung pemikiran baru yang sedang bangkit waktu itu. Nyai Ontosoroh adalah seorang wanita bumi putera yang bernama asli Sanikem, perempuan pribumi sederhana yang awalnya tak berdaya untuk menolak menjadi gundik (nyai) seorang Belanda bernama Herman Mellema. Tetapi ia menemukan kebangkitan diri. Kekalahannya dalam bentuk ketakberdayaan menolak untuk menjadi gundik mendorong Nyai Ontosoroh untuk banyak menyerap berbagai arus pemikiran Belanda dan bahkan mengendalikan perusahaan milik Herman.

Nyai Ontosoroh tetaplah Sanikem wanita pribumi yang lagi-lagi tak berdaya ketika anaknya, Anellies, diambil paksa dari tangannya. Tetapi bagaimanapun juga Nyai Ontosoroh dalam novel tersebut telah berusaha keras melakukan perlawan mempertahankan anaknya meski kalah. Kekalahan adalah resiko dari pertarungan. Tetapi semangat untuk mengalahkan belenggu penindasan dan kemunafikan adalah sebuah harga yang mahal. Dalam novel tersebut digambarkan bahwa Nyai Ontosoroh berkata kepada tokoh Minke dengan kepala tegak: "Kita kalah. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-hormatnya!"

Dalam novel tersebut, Nyai Ontosoroh adalah seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Annelis. Bahkan ia adalah sang ibu yang memberikan banyak gagasan maju yang mencerahkan anak angkatnya, Minke, seorang pemuda keturunan bangsawan Jawa yang tidak lagi mau tunduk patuh pada produk pikiran dan tindakan lama yang mencerminkan relasi ketidakadilan. Seorang ibu, Nyai Ontosoroh, telah mendorong seorang pemuda untuk berpartisipasi dalam mendukung perubahan di sebuah negeri yang memang hendak meninggalkan jaman kegelapan. Seorang ibu dalam masyarakat transisi memiliki peran yang kuat, tidak lemah dan hanya tunduk patuh serta jatuh ke dalam kubang posisi dan peran domestik, apa lagi sampai menjadi objek kekerasan suami.

Karya-karya semacam itulah yang sangat kita butuhkan sekarang ini. Perjuangan memperjuangkan hak-hak perempuan dan menuntut partisipasi aktif dan produktif bagi kaum perempuan adalah kebutuhan yang tak dapat ditawar. Para penulis dan pengarang (sastrawan) harus mengagendakan aktualisasi komitmen sosial kepengarangannya, terutama dari kaum perempuan sendiri yang seharusnya berada di garis depan dalam dunia kesusastraan untuk menuliskan posisi dan peran yang maju dan mendobrak budaya patriarki.

Akhir-akhir ini memang banyak karya sastra yang menjadi tempat bagi kaum perempuan untuk mendobrak kebudayaan lama Indonesia yang membelenggunya. Bukan lagi lelaki seperti Pram yang hadir,tetapi justru kaum perempuan sendiri yang telah menghasilkan karya sastra untuk melontarkan pemikirannya menamai relasi kesetaraan. Sebut saja Ayu Utami yang dengan Novel “Saman” dan “Larung”-nya berhasil merebut diskursus baru tentang perempuan yang memiliki hak atas tubuh dan pilihan ideologis atau keberpihakan. Nama lain seperti Jenar Mahesa Ayu, Dewi “Dee” Lestari, Rieke Dyah Pitaloka, dll turut membuka kembali kebekuan paham lama. Mereka melanjutkan upaya perlawanan yang dirintis oleh Kartini. Melalui sastra pencerahan dimulai dan paham lama ditinggalkan.

Karya-karya tersebut turut mengiringi gerakan sosial untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Capaian legal dan formal saja tidak cukup. Memang, dibutuhkan sebuah penempatan perempuan dalam perjuangan untuk menghadapi dan menghancurkan tatanan penindasan yang kini didominasi neoliberalisme dan sisa-sisa feodalisme. Perjuangan perempuan tidak boleh eksklusif, tetapi harus terlibat dalam perjuangan massa rakyat, mengarahkan serangan ideologis dan programatiknya untuk menyerang akar permasalahan. Sebagaimana kita rasakan, karya-karya sastra tersebut turut mewarnai dan memberikan nuansa estetis pada gerakan sosial dan (bahkan) politik untuk menghancurkan sumber-sumber sosial yang menyebabkan ketertindasan perempuan.***


Jember, 22 Desember 2007





Blog EntryDec 14, '07 5:02 AM
for everyone

Chating Dengan Rudi Haryoko

Chating ini terjadi pada Hari Jumat, 14 Desember 2007, kira-kira jam 2 sampai jam 3.50)

Instant messages are being archived on this computer.

View Full Archive (Alt+Shift+V)   Archiving Preferences (Ctrl+Shift+P)

 

…..

 

emo_n_punk_melody: pernah sepintas lihat di resist book

mukti dimas: buka: www.esaipolitiknurani.blogspot.com

mukti dimas: klik aja

mukti dimas: hai Rud

emo_n_punk_melody: oh ya mas

mukti dimas: kamu apaaja aktivitasnya slain kuliah?

 

 

emo_n_punk_melody: selain kuliah...

emo_n_punk_melody: bikin usaha

mukti dimas: usaha apa?

 

 

emo_n_punk_melody: pokoknya everything yang ngasilin duit

mukti dimas: kan itu abstrak, Kawan

emo_n_punk_melody: apa aja mas..

mukti dimas: maksudnya kerja apa

emo_n_punk_melody: ekspor sirip hiu

emo_n_punk_melody: Multilevel

mukti dimas: ooo

mukti dimas: bagus juga

mukti dimas: mbok ya mbantu aku bikin organisasi/kjaringan pemuda

emo_n_punk_melody: sebenarnya banyak proyek yang mau saya buat

mukti dimas: misalnya?

emo_n_punk_melody: nih lg nyari info

emo_n_punk_melody: oh ya...

emo_n_punk_melody: gimana caranya???

mukti dimas: cara apa?

emo_n_punk_melody: mas punya website atau forum yang membahas tentang pendidikan??

mukti dimas: gak ada

emo_n_punk_melody: emang saya uda nemu komunitas yang sesuai buat saya mass\

emo_n_punk_melody: coba buka www.yahooanswer.com

emo_n_punk_melody: saya pake nick RCA

mukti dimas: aku dah buka

mukti dimas: tapi gak ada apa apanya tuh

emo_n_punk_melody: soalnya, di sisi saya nemuin banyak temen yang nyambung buat diskusi, sekalian cari pelanggan, hehehee

emo_n_punk_melody: oh ya mas, mau cabut neh, ada janji

emo_n_punk_melody: caw

mukti dimas: ok

mukti dimas: no kamu kok

mukti dimas: gak bisa

mukti dimas: aku hubungi

mukti dimas: knapa?

emo_n_punk_melody: soalnya HPq udah kejual

emo_n_punk_melody: makanya sekarang lagi ngebet pengen cari duit

emo_n_punk_melody:

mukti dimas: ooo

 

 

emo_n_punk_melody: kalo cuma SMS ga masalah, coz bisa ngrampok punya temen

 

 

emo_n_punk_melody: oh ya mas, sebelum cabut, saya punya pertanyaan yang asik buat di bahas

mukti dimas: apa?

 

 

Hide Recent Messages (F3)

 

emo_n_punk_melody: seseorang yang menyukai musik keras semisal Harcore, metal, underground, cenderung mempunyai pemikiran yang lebih matang dibanding pecinta musik easy listening

mukti dimas: emang'

mukti dimas: kayak aku kali

mukti dimas: hehje

mukti dimas: aku suka SOAD

mukti dimas: AudioSlaves

mukti dimas: SoulFly

emo_n_punk_melody: hahaha

mukti dimas: Megadeath

emo_n_punk_melody: SOAD'

mukti dimas: knapa?

emo_n_punk_melody: saya juga suka soadsoalnya lyricnya dewasa dan kritis

mukti dimas: loh, dia musik perlawanan, melawan kapitalisme global

mukti dimas: tapi liriknya masuk lewat tuntutan ekologis

emo_n_punk_melody: "Yet you feed us lies from the tablecloth"

mukti dimas: ok

emo_n_punk_melody: lirik yang paling kurenungkan

mukti dimas: "eveytime u drops ur bomb, u killed the children that we ve born"

mukti dimas: "what  s splendid pie pizza pizza pie... every minutes every second buy buy buy buy..."

emo_n_punk_melody: hahaha

emo_n_punk_melody: kelihatanya lyriknya lucu

emo_n_punk_melody: tapi penuh pemikiran

mukti dimas: iy

mukti dimas: iya

emo_n_punk_melody: oh ya ne mas, sama mau caw neh.... next time kita sambung....

mukti dimas: aku awal tahun k jember

mukti dimas: kita ktemuan ya

mukti dimas: sbenarnya akhir tahun, liburan natal ini dah di jber

mukti dimas: kamu pulang k Bwi gak?

emo_n_punk_melody: wah udah ga sabar buat diskusi

emo_n_punk_melody: ntar tak siapin bahan....

emo_n_punk_melody:

emo_n_punk_melody: ga

emo_n_punk_melody: sibuk nyelesain proyek

mukti dimas: proyek apalagi?

emo_n_punk_melody: ya.. ga bakal jauh jauh dari cari duit.....

emo_n_punk_melody: hehehehe

mukti dimas: yang tadi itu?

emo_n_punk_melody: ohh....

emo_n_punk_melody: bukan

mukti dimas: trus apa?

emo_n_punk_melody: sekarang lagi sibuk buat blog

mukti dimas: apa itu proyeknya yang mendatangkan duit?

emo_n_punk_melody: bangun jaringan pemasaran

emo_n_punk_melody: lewat internet

emo_n_punk_melody: bikin kontak sebanyak banyaknya

mukti dimas: ooo

mukti dimas: bagus kalau gitu

mukti dimas: tapi ngomong2...

mukti dimas: kamu banntu gerakan demokrasi donk

mukti dimas: kamu kan tau banyak hal..

mukti dimas: kalau diam aja, dosa lho

emo_n_punk_melody: hehehe

emo_n_punk_melody: soalnya dikepalaku isinya cuma,money, business, opportunity, rich

mukti dimas: orang yang tau tetapi hanya diam saja, namanya manusia palsu..

emo_n_punk_melody: heheehe

mukti dimas: .

emo_n_punk_melody: wah, di Yahoo! Answer aq udah bantu banyak kok

mukti dimas: kamu kayaknya gak percaya pada perubahan

mukti dimas: hanya mengandalkan omongan dan tulisan untuk merubah kehidupan

emo_n_punk_melody: bahkan sering ngasih pertanyaan yang super kritis

mukti dimas: maksudku: berkumpul, berjejaring, dan bikin gerakan bareng itu lah yang efektif

mukti dimas: ...

mukti dimas: tau Puisinya Widji Thukul gak?

emo_n_punk_melody: oh gitu

emo_n_punk_melody: ga

mukti dimas: "DUNIA TAK BERGERAK HANYA KARENA OMONGAN/PARA PEMBICARA SEMINAR/ATAU PENULIS SALON/YANG UCAPANNYA DIMUAT DI KORAN/LALU SETELAH ITU DIBACA DAN DIBUANG DI TEMPAT SAMPAH/DAN DUNIA TETAP TAK BERUBAH..."

mukti dimas: Kamu masih muda...

mukti dimas: kaum muda seharusnya progress

mukti dimas: bangun kekuatan

mukti dimas: bersama

emo_n_punk_melody: yap

emo_n_punk_melody: sekarang saya masih membangun pondasi diri pribadi

mukti dimas: ia

mukti dimas: maksudku gak bertentangan

mukti dimas: tapi kan masih ada waktu

emo_n_punk_melody: hmm...

mukti dimas: meski sedikit

mukti dimas: kita manfaatkan

mukti dimas: ntar ngobrol wes

emo_n_punk_melody: yap... kutunggu di jember

mukti dimas: mencari ekonomi pribadi bukan tujuan kan? tapi hanya menfasilitasi diri agar  punya basis untuk berperan yang lebih luas

emo_n_punk_melody: ya

emo_n_punk_melody: untuk berwawasan juga butuh dukungan

mukti dimas: manusia bukan binatang yang hanya memenuhi kebutuhan makan minum seks rumah pakaian atau material (biologis-fisiologis)... tetapi punya cita cita dan memperjuangkannya

emo_n_punk_melody: oh ya

emo_n_punk_melody: saya mempunyai cita-cita

mukti dimas: apalagi sudah tau ada kebobrokan, diam saja

mukti dimas: itu namanya pengkhianat

mukti dimas: terhadap realitas

mukti dimas: kita sejenis manusia, mahkluk unik

mukti dimas: yang punya cita-cita maju

mukti dimas: 'melepaskan diri dari kontradiksi

mukti dimas: untuk kebersamaan kehidupan

mukti dimas: kita memang harus menjawab kebutuahn diri, itu penting

mukti dimas: tapi harus punya peran sosial

mukti dimas: bahkan politik kalau sumber bencana dan penyelesaiannya juga lewat jalur itu

mukti dimas: diam adalah bagian dari gerak, itu hukum (law of motion)

mukti dimas: posisi kita ada dalam hubungan produksi sejarah

mukti dimas: tak ada netral

mukti dimas: mau tak mau kita harus berpihak

mukti dimas: diam hanya akan memperpanjang barisan penindasan...

mukti dimas: ...

emo_n_punk_melody: tapi saya mempunyai jalan sendiri

emo_n_punk_melody: saya tidak dia

emo_n_punk_melody: saya tidak diam

emo_n_punk_melody: cita-cita saya kutujukan bagi perubahan

mukti dimas: setiap orang memang punya jalan sendiri... dan dengan jalan sendirio sendiri itulah kontradiksi umum dari penindasan tak dapat ditakhlukkan

mukti dimas: gerakan untuk perubahan butuh persatuan

mukti dimas: Bung Karno dulu tahu betul itu

mukti dimas: "jalan sendiri" identik dgn kepentingan sendiri

mukti dimas: abstrak

emo_n_punk_melody: namun jalan yang saya tempuh sesuai dengan apa yang pikiran bawah sadar saya inginkan

mukti dimas: dan obsesi terbesarnya ya kembali ke "kebutuhan diri'

mukti dimas: aku tau

mukti dimas: "pikiran bawah sadar" atau "pikiran sadar"?

mukti dimas: "bawah sadar" artinya tak sadar.

mukti dimas: "bawah sadar", hanya bergerak menuruti naluri (instink), kayak binatang...

emo_n_punk_melody: pikiran bawah sadar adalah pikiran yang 88% mengendalikan manusia

mukti dimas: tapi kalau berdasarkan pikiran, kita rengkuh realitas dan kita tahu, dan karena kita manusia yang punya moral dan belas kasihan maka kita membenci sistem yang tak adil

mukti dimas: dan kalau kita bergerak hanya atas alam bawah sadar, homo homoni lupus

emo_n_punk_melody: nah, sekarang saya ingin tahu pendapat mas nurani mengenai kebencian........

mukti dimas: Takut Mengetahui?

mukti dimas: Itulah perasaan yang ada pada orang yang berwatak subjektif dan sepihak, hal itu bisa menjadi benih-benih watak fasis seseorang yang anti-keadilan. Pada jaman dahulu ketika masyarakat masih terlena dalam kegelapan (di era Dark Ages),  segalanya  dianggap  “buatan tuhan”, termasuk kaya dan miskin adalah “takdir tuhan”.

emo_n_punk_melody: maybe about "Fuck the system"

mukti dimas: Kabar yang disampaikan oleh para penindas feudal di abad Pertengahan, misalnya, adalah bahwa “Pusat tata surya adalah Bumi” (teori Geosentris). Ternyata setelah secara objektif  diketaui melalui alat bantu teleskop orangpun yakin bahwa pusat tata surya adalah Matahari (teori Heliosentris). Pihak gereja dan kerajaan  juga takut  setengah mati dengan ketahumenahuan ini, makanya dia melakukan cara-cara memaksa dengan memancung Copernicus karena pengetahuan yang ditemukannya mengancam tatanan kekuasaan feodalisme (monarki absolut) yang menindas.

mukti dimas: Karena dasar di atas, maka ketakutan harus selalu dipelihara dalam masyarakat—agar sistem penindasan tetap berjalan. Tradisi kegelapan dipelihara, TV-TV, media-media cetak, prasangka-prasangka umum yang awam, semuanya memelihara ketakutan atau mempertahankan kegelapan, takhyul, dan pandangan tidak ilmiah. Ketakutan harus dipelihara agar tidak pernah muncul pemikiran dan perasaan pemberani (dan mau ambil resiko) agar budaya dan tatanan penindasan terdobrak. Ketakutan memang dapat memperpanjang daftar penindasan dan kebodohan.

emo_n_punk_melody: maka jangan heran jika akan muncul fanatisme yang benar benar menghambat ilmu pengaetahuan

mukti dimas: Dunia ini material, konkrit dan bukan sandiwara. Kaum idealis yang asketik selalu menekankan agar manusia menghibur diri sendiri, membohongi diri, mengalihkan kecenderungan (kebutuhan-kebutuhan konkrit). Akhirnya, mereka selalu begitu mudahnya—mungkin gara-gara kemiskinan filsafat (kebodohan) dan kelemahan psikologis—diarahkan  untuk menerima jawaban-jawaban yang menghibur; misalnya begitu mudahnya orang-orang  menerima anggapan bahwa “hidup ini  di dunia sangat sementara; biarlah kita menderita, susah, dan kecewa… asalkan di dunia setelahnya  bahagia.”

mukti dimas: Fanatisme dan komitmen berbeda lho!!!

emo_n_punk_melody: wah!! cocok dengan pemikiran saya

mukti dimas: ingin jalan sendiri dengan berbuat sesukanya juga beda kan?

mukti dimas: ]maksudku,

mukti dimas: pengetahuan harus seiring dengan tindakan

emo_n_punk_melody: sjelas beda

mukti dimas: hiburan yang memabukkan dan membodohi ya harus diserang

emo_n_punk_melody: ya.. setuju

mukti dimas: Memang manis dan menghibur, seperti  perasaan yang harus menerima ketika dihadapkan pada fakta bahwa orang-orang yang tertindas harus menjalani kesusahan material dengan romantika tersendiri (melalui mekanisme psikologis).

Asketisme mengajarkan pada masyarakat  miskin bahwa kondisi kontradiksi pahit dan tidak berbudaya  yang menimpanya, dan yang membuatnnya  (merasa atau tidak merasa) menderita,  tidak sepadan dengan kenikmatan di “surga” nanti. Makanya dicekokkan juga janji “kehidupan setelahnya” (The Day After atau akhirat). Material tubuh manusia dan efek psikologisnya memang memiliki “Sensasi Keabadian”—dan inilah yang membuat kita begitu percaya bahwa kita ingin “hidup selamanya”, ungkapan irasional yang tentu saja tidak masuk akal.

mukti dimas: Dan kaum  asketik dalam himbauan moralnya terus saja menekankan bahwa Tuhan dan  malaikatnya terus mengawasi kita dan akan mengganti rugi di kehidupan mendatang atas frustasi dan kekecewaan yang kita derita sejak kecil di dunia.

mukti dimas: Kehidupan, terutama bagi orang miskin yang sering dijadikan kaum intelektual sebagai bahan mentah hanya untuk dibicarakan, ditulis, diseminarkan—yang dengan demikian dieksploitasi untuk menghibur diri dan untuk mendapatkan “dana”—terlalu  banyak membawa penderitaan,  kekecewaan, terasa sangat berat, serta tugas-tugas sulit yang hampir mustahil untuk mencipta kehidupan (sosial, seni, dan budayanya).

mukti dimas: Menurut Sigmund Freud dalam Civilization and Its Discontent, untuk memikul penderitaan-penderitaan itu,  orang tidak bisa membuangnya melalui ukuran-ukuran standard yang bersifat meringankan. Tidak mungkin bagi orang untuk untuk membuang penderitaan dari pikiran dan perasaannya.

mukti dimas: Kondisi material yang membawa penderitaan yang menimpa dirinya pasti dirasakan, pasti mempengaruhi kesadaran dan kejiwaannya. Ia memang bisa disangkal dan dilupakan, tetapi tidak hilang dalam jalinan psikologis dan hal ikhwal emosinya, yaitu  menguap dalam perasaan (bawah sadar) melalui mekanisme pengalihan yang membentuk watak, obsesi-obsesi dan kesimpulan baru, dendam-dendam dan “kegilaan”, atau ambisi dan keinginan lama dan baru yang biasa dianut manusia normal,  yang obsesi-obsesinya memang tidak jauh dari kebutuhan-kebutuhan konkrit kehidupannya.

emo_n_punk_melody: yang hanya membuat kita berfikir untuk mengikuti arus sungai

mukti dimas: Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan sebagai sebab-sebab penderitaan biasanya bisa disangkal, dilupakan, atau ditekan dengan mekanisme kerja psikologis, yang menurut Freud,  seperti ini:  (1) pembelokannya sangat kuat, yang menyebabkan kita menganggap enteng penderitaan kita; (2) kepuasan pengganti, yang akan mengurangi penderitaan tersebut; (3) substansi-substansi yang memabukkan, yang membuat kita tidak mengindahkan penderitaan.

mukti dimas: Tetapi orang yang dalam hari-harinya memang tidak pernah bersentuhan dengan analisa psikologis dalam dirinya sendiri memang tidak merasa, dan biasanya mereka menghadapkan perasaannya terhadap realitas hidupnya berdasarkan subjektifitas mereka. Pada hal, faktanya justru  kompleksitas psikologis itu yang justru mengendalikan kita dalam aktivitas sehari-hari.

mukti dimas: Sebenarnya budaya yang maju dibangun dari keberadaan individu-individu yang secara mental sehat dan produktif bagi budayanya. Dan kebudayaan yang lahir dari sistem sosial-ekonomi yang kontradiktif bagi tiap-tiap individu juga akan menghasilkan kebudayaan yang “miskin” atau tidak manusiawi. Setiap orang menghendaki dirinya menjadi manusia yang bermartabat, “kaya” dengan cara “menjadi”, atau—meminjam Nietzsche—menjadi “manusia unggul” (Ubermansch).

mukti dimas: kamu harus produktif bagi peradabanmu

mukti dimas: kalau kamu kerja, ya itu harus

mukti dimas: tapi kan kamu akan terlena dengan kejayaan individual

mukti dimas: kalau kamu

mukti dimas: gak bangun komitmen dan

mukti dimas: tindakan sejak muda

mukti dimas: apakah tujuan hidupmu hanya kuliah kerja lulus punya istri lahirkan anak?

mukti dimas: itu aja

mukti dimas: tak maukah kamu bergabung untuk merubah akar penindasan

mukti dimas: yang harus dijawab dgn

mukti dimas: tindakan

mukti dimas: yang meluas

mukti dimas: terstruktur

mukti dimas: dgn jaringan kuat

mukti dimas: ..

emo_n_punk_melody: namun sayangnya, rasa malas akan kemajuan bersama karena saya telah dibutakan oleh kemajuan pribadi......

mukti dimas: atau kita hanyalah jadi orang individualis dan anti-sosial?

emo_n_punk_melody: atau karena saya terlalu meremehkan orang lain

mukti dimas: iya

mukti dimas: jangan remehkan orang lain

mukti dimas: jangan serang orang lain

mukti dimas: sadarkan orang lain untuk bertanggung jawab pada peradaban manusia yang terancam oleh predatory capitalism--begitu kaya SOAD

emo_n_punk_melody: sebenarnya secara jujur, kapitalis benar-benar sukses meresap kedalamn pikiran saya

mukti dimas: ya

mukti dimas: ntar kita diskusikan

mukti dimas: bagaimana ideologi itu

mukti dimas: kapan hari kita cuman dangkal diskusinya

emo_n_punk_melody: oh ya.. ntar saya mau nambah referensi dan mas nurani...

emo_n_punk_melody: salam

mukti dimas: nambah referensi untuk apa?

mukti dimas: ngumpulin referensi trus untuk apa?

mukti dimas: biar pinter terus laku di pasar kerja?

mukti dimas: biar kaya raya?

mukti dimas: dan bikin "jalan sendiri"?

mukti dimas: ...

mukti dimas: terlalu banyak yang begitu

mukti dimas: terlalu banyak, Rud!

emo_n_punk_melody: so....

emo_n_punk_melody: apakah saya salah jika menempuh jalan sendiri...

emo_n_punk_melody: yang sesuai dengan cita2 saya??

mukti dimas: wacana hanya tinggal wacana, tulisan dan karya intelektual banyak tertumpuk di gudang, banyak orang yang katanya intelek, tapi penindasan semakin parah, kemiskinan dan dehumanisasi kian meluas

mukti dimas: ..

mukti dimas: saya tak mau menghakimi

mukti dimas: gak salah kok

mukti dimas: ya dah mudah mudahan kamu sukses

mukti dimas: yaa...

emo_n_punk_melody: saya tidak melihat vonis dari mas, saya hanya melihat dorongan dari mas untuk bertindak

emo_n_punk_melody: thankss

mukti dimas: thanks

emo_n_punk_melody: kita teruskan dengan tatap muka..

emo_n_punk_melody: salam

mukti dimas: tau sendiri, saya memang begitu gaya bicaranya

mukti dimas: kayak pas diskusi bedah bukuku di isip itu

mukti dimas: ..

mukti dimas: tapi

mukti dimas: ada ukuran

mukti dimas: dalam hidup ini

mukti dimas: tidak relatif

mukti dimas: tidak sesuka sendiri

emo_n_punk_melody: hmm tidak masalah, saya sudah belajar menjadi pendengar

emo_n_punk_melody has signed out. (12/14/2007 4:38 PM)

***


Blog EntryDec 9, '07 6:22 AM
for everyone
W a k t u—
“T i t i K a l a M a n g sa!”



Oleh: Nurani Soyomukti*)




Wong takon wosing dur angkoro
Antarane riko aku iki
Sumebar ron ronaning koro
Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
Kolo mangsane, ni mas
Titi kolo mongso

Pamujiku dibiso
Sinudo kurban jiwanggo
Pamungkase kang dur angkoro
Titi kolo mongso

(Orang orang bertanya kapan angkara murka berakhir
Diantara kau dan aku
Tersebar daun daun kara
Bersabarlah untuk sementara waktu
Suatu ketika, dinda
Pada suatu ketika

Doaku semoga
Semakin berkurang korban jiwa raga
Pengakhir angkara murka
Waktu)

(Sujiwo Tedjo)


Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2007, dan kita akan menuju tahun baru, tahun 2008. Dan sayangnya kebanyakan manusia masih banyak berdebat soal waktu, dan bukannya mengukur dan membentuk ruang yang memungkinkan terciptanya kehidupan yang lebih baik. Merayakan—dan sekaligus meresahkan—waktu, dengan melupakan ruang, akan membahayakan bagi peradaban manusia.
Waktu, harus kita akui, begitu meresahkan bagi banyak—mungkin semua—orang, lebih tepatnya bagi orang yang hidup di jaman modern yang penuh kontradiksi dan ukuran-ukuran kuantitatif.
Bagi orang Jawa yang memegang kearifan budaya, seperti lagu Sujiwo Tedjo di atas, waktu benar-benar hanyalah berupa hitungan pada saat nasib kemanusiaan berharap kapan akan datang suatu perbaikan. Dan memang, ketika orang berharap atau menunggu (suatu karakter mental masyarakat modern), ia akan berurusan dengan waktu. Masalahnya ia menghitung dan mempertimbangkan. Dan pada saat ada ukuran berupa waktu, kecemasan adalah ciri dari masyarakat modern.

Mendefinisikan Waktu
Di abad ke-5, Santo Agustinus mengatakan: "Lalu, apakah waktu itu? Jika tidak ada yang bertanya, saya tahu apa waktu itu. Jika saya ingin menjelaskannya pada seseorang yang bertanya kepada saya, saya tidak tahu."
Dari ungkapan itu, mendefinisikan waktu sangatlah sulit. Apa lagi kalau dikaitkan dengan perasaan (baik cemas maupun optimis), waktu hanya dipahami secara serampangan. Bahkan biasanya orang lupa pada waktu, sebagaimana mereka lupa pada kebaikan dan kemanusiaan. Membuka kamus untuk mencari tahu makna dari waktu ternyata juga tidak banyak memberikan penjelasan. Di dalamnya “Waktu” didefinisikan sebagai "satu periode", dan satu periode didefinisikan sebagai "waktu". Artinya, membuka kamus untuk mengetahui apa makna waktu tak akan membuat kita pintar. Pada kenyataannya, hakikat waktu dan ruang adalah sebuah masalah filsafat yang cukup kompleks.
Waktu adalah cara untuk menyatakan perubahan dalam keadaan dan pergerakan yang merupakan ciri tak terpisahkan dari materi dalam segala bentuknya. Dalam tata bahasa Inggris, kita memiliki tenses: past tense, future tense dan present tense. Penaklukan kolosal yang dilakukan akal manusia memungkinkannya untuk membebaskan dirinya sendiri dari perbudakan waktu, untuk mengatasi situasi kongkrit dan menjadi "hadir" ('present'), bukan hanya di sini dan sekarang, tapi juga di masa lalu dan di masa datang, setidaknya di dalam pikiran.
Menurut Allan Wood dalam bukunya “Reason and Revolt” (1999), waktu dan gerak adalah dua konsep yang tidak terpisahkan. Keduanya hakiki bagi semua kehidupan dan semua pengetahuan di dunia, termasuk tiap perwujudan yang diambil oleh pikiran dan khayalan. Pengukuran, batu penjuru dari semua ilmu pengetahuan, akan mustahil tanpa ruang dan waktu. Musik dan tari didasarkan atas waktu. Seni sendiri mencoba mencapai satu rasa tentang waktu dan gerak, yang hadir bukan hanya diwakilkan oleh enerji fisik tapi juga oleh disainnya. Warna, bentuk dan garis dari sebuah lukisan membimbing mata melintasi permukaan dalam irama dan tempo tertentu. Inilah yang menumbuhkan rasa, ide dan emosi tertentu pada kita setelah kita menikmati karya seni tersebut. Keabadian adalah kata yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai karya seni, tapi justru sebenarnya menyatakan persis kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Kita tidak akan dapat merasakan ketiadaan waktu, karena waktu hadir dalam segala sesuatunya.
Ada satu perbedaan antara ruang dan waktu. Ruang dapat juga menyatakan perubahan, sebagaimana perubahan dalam posisi. Materi hadir dan bergerak melalui ruang. Tapi jumlah cara yang dapat dilalui oleh perubahan ini besar tak berhingga: maju, mundur, naik atau turun, dengan derajat apapun. Pergerakan dalam ruang juga dapat berlaku kebalikannya. Pergerakan dalam waktu tidak dapat diputar balik. Keduanya adalah dua cara yang berbeda (bahkan bertentangan) dalam menyatakan satu ciri yang hakiki dari materi—perubahan. Inilah satu-satunya Kemutlakan yang ada.
Ruang adalah "kembaran" materi, kalau kita pakai istilah Hegel, sementara ruang adalah proses di mana materi (dan energi, yang merupakan pernyataan lain materi) terus-menerus berubah menjadi hal yang lain daripada dirinya sendiri. Waktu – "api yang menelan kita semua"—biasanya dilihat sebagai suatu hal yang destruktif. Tapi sebenarnya waktu juga merupakan pernyataan dari proses permanen penciptaan diri sendiri (self-creation), di mana materi terus-menerus berubah menjadi bentuk-bentuk lain yang jenisnya tak berhingga. Proses ini dapat dilihat dengan cukup jelas dalam materi-materi yang anorganik, terutama di tingkat sub-atomik.

Tahun Lama, Tahun Baru
Ya, tahun baru akan segera tiba. Bisakah kondisi buruk masa lalu kita hindari bersamaan dengan pergantian tahun? Bisakah pergantian waktu mengantar kita pada kehidupan yang lebih baik? Ataukah—sebagaimana dikatakan Martin Heidegger—akan terjadi lagi “rahasia waktu”, yakni risalah yang menuju kematian (Zeit zum Tode)?
Pandangan tentang perubahan, seperti yang dinyatakan dalam berlalunya waktu, dengan dalam merasuki kesadaran manusia. Inilah basis dari semua unsur tragis dalam kesusastraan, perasaan sedih karena berlalunya kehidupan, yang mencapai bentuknya yang paling indah dalam soneta-soneta Shakespeare, seperti yang satu ini, yang dengan gemilang menggambarkan satu rasa akan pergerakan waktu yang penuh keresahan:

"Like as the waves make toward the pebbled shore,
So do our minute hasten to their end;
Each changing place with that which goes before,
In sequent toil all forward to contend."

("Laksana ombak yang melaju ke pantai berpasir,
demikianlah menit demi menit berpacu menuju kehancuran;
semuanya bertukar tempat dengan para pendahulu,
berturutan mereka menyeret diri ke dalam pertempuran")

Kemustahilan kita untuk membalik waktu tidak hanya berlaku untuk mahluk-mahluk hidup. Bukan hanya manusia, tapi bintang-bintang dan galaksi juga dilahirkan dan mengalami kematian. Perubahan berlaku untuk segala hal, tapi bukan hanya dalam makna yang negatif. Berdampingan dengan kematian, hadirlah kehidupan, dan keteraturan lahir secara spontan dari kekacauan. Tanpa kematian, kehidupan itu sendiri tidaklah akan dimungkinkan. Tiap orang bukan hanya sadar akan dirinya sendiri, tapi juga akan negasi dari diri mereka, dari batasan terhadap diri mereka sendiri. Kita berasal dari alam dan akan kembali ke alam. Kenapa takut dengan waktu? Seharusnya kita merencanakan ruang agar waktu tidak hanya meromantisir kejadian-kejadian, yang melupakan kita pada kenyataan yang sebenarnya. Wallahu’alam!***







Blog EntryDec 9, '07 6:18 AM
for everyone

pergantian tahun

suasana malam, terutama bintang yang berbaris di angkasa
menghempas kejemuan dan melahirkan spaneng pikiran
lalu muncul kata-kata menari di antara bercak-bercak bayangan abad-abad yang lalu
yang dengan cepat dapat kutinggalkan
dan dengan cepat pula aku tenggelam memasuki keremangan
angin masih dapat menerpa pucuk pohon rambutan
dan kabar dari seorang kekasih masih belum dapat kupindahkan
pada hal jika aku bercakap-cakap dengan bulan,
sepi dapat dengan sopan
permisi dari sini.

cepat atau lambat
pergantian tahun hendak memberi kesan
atau kesanggupan.

(Lenteng Agung, Des 2007)






Blog EntryDec 9, '07 6:07 AM
for everyone
Hanya Pada Buku-buku

hanya pada bukubuku aku merasa
bahwa kamu ada di kamarku
biasanya kau gagas setumpuk ide
untuk dijalani esok pagi
--meski kita bangun terlambat daripada matahari.

tapi kau jauh dari sini
entah apa yang kau eja di sana

kini juga ada yang kukejar selalu, sayang.
malammalam siangsiang yang membebaniku

waktu yang memperpanjang baringku
dan jarak yang tak bisa dibaca
dengan alat pengukur suhu demamku

hanya bukubuku ini temanku
yang menggantikanmu
kubaca lembar demi lembar
dan kutandai kisahkisah yang penting

kututup kembali
saat aku harus memasuki mimpi
masih ada pagi yang terburuburu.
kerna aku hanya menduga
tentang kedatanganmu.

Lenteng Agung, Awal Desember 2007




Blog EntryDec 6, '07 12:48 AM
for everyone


Hari Natal, Semangat Cinta, dan

Rekonstruksi Kemanusiaan

 

 

Oleh: Nurani Soyomukti*)

 

 

Mendekati perayaan Hari Natal tahun ini, kita masih dihadapkan pada kenyataan pahit sejarah bangsa, yang dalam banyak hal menyengsarakan rakyat mayoritas, meskipun mendatangkan  “kebahagiaan” bagi segelintir orang yang, celakanya, mendapatkan kekayaannya dengan cara korupsi. Cinta hanyalah untuk orang kaya dan bukan untuk orang miskin dan dimiskinkan. Dapatkah warisan cinta sebagai ajaran utama Yesus dapat direalisasikan secara konkrit untuk menata kembali hubungan antar manusia yang ada?

Hakekat manusia adalah sadar akan lingkungannya. Ini bisa ditempuh dengan menggunakan kapasitas hati dan pikiran untuk berpengetahuan. “Dunia adalah taman firdaus dengan hati dan pikiran sebagai pintu gerbangnya”, demikian kata filsuf Kahlil Gibran. Dalam konteks ini, cinta adalah kekuatan aktif yang melibatkan ilmu pengetahuan dan perasaan. Tanpa mengetahuan orang hanya akan tunduk pada kebodohan, cinta buta yang tidak menjadi semangat untuk melihat relasi antar manusia secara objektif tetapi hanya berlandaskan subjektifitas yang kecenderungannya adalah memaksakan kehendak.

Tapi juga apalah daya, manusia adalah produk dari masyarakat juga. Apa lagi manusia-manusia di negeri ini yang selalu dijauhkan dari pendidikan dan didekatkan pada mitos, takhayul, dan sentimen-sentimen kelompok yang sempit. Lalu, kapitalisme pasar bebas juga  menjadikan manusia hanya tunduk pada egonya: Ego spesies  yang menghinggapi makhluk manusia, ego yang tidak bisa membukakan pikiran dan hatinya untuk mewujudkan harmoni kehidupan sebagai manusia yang otentik. Ego spesies inilah yang membuat mereka (spesies manusia) merasa sudah menjadi manusia (dalam pengertian kualitatif), merasa  sudah jadi ‘fi ahsani taqwim’ (manusia dalam sebaik-baiknya bentuk). Pada hal mereka sama sekali belum sedikitpun berpikir tentang parameter apa yang menyebabkan mereka disebut sebagai manusia.  Mereka mengaku berbeda dengan spesies lain, misalnya hewan dan tumbuhan; tetapi, sekali lagi,  apakah hanya dengan aktivitas berupa makan, minum, seks, dan pelampiasan-pelampiasan kebutuhan (yang juga dimiliki mahkluk lain) telah memberikan penjelasan bahwa mereka “manusia jadi”?

Ada kemungkinan bahwa mahkluk lain pun juga memiliki  perasaan kememadaian terhadap realitas spesiesnya. Binatang juga melakukan makan, minum, seks,  dan aktivitas-aktivitas yang lain, saling memangsa, dan sebagainya. Mereka merasa puas dengan eksistensi dirinya. Artinya, mereka juga memiliki  ego spesies. Sebagai analogi dan anekdot: Apakah anjing, seandainya  ia mampu merasa dan berpikir,   akan merasa bahwa mereka lebih rendah dari “manusia”?

Tidak.  Ketika  mereka berteriak, “guk-guk-guk!” (pada saat melihat kita, karena dirasa kita akan mengganggunya), mereka barangkali  juga mengumpat: “Dasar manusia spesies rendahan, nggak ngerti bahasa anjing!??!!!” Kita pun ngomong: “Dasar binatang jelek, bisanya cuma menggonggong!”. Tepatnya ego spesies ini adalah murni watak  “manusia” yang juga binatang, watak spesies rendahan yang perlu dituntaskan dengan menata struktur yang lebih kondusif bagi perkembangan kepribadian. Ego spesies manusia yang merasa sebagai spesies sempurna ini juga tercermin pada  kerakusan manusia dan agresifitasnya untuk menakhlukkan spesies lain (hewan dan  tumbuh-tumbuhan): spesies manusia menangkapi hewan, memburunya, dan mempekerjakannya untuk kepentingannya.  Spesies manusia membabati hutan karena cemburu pada kehidupan tumbuh-tumbuhan yang lebat dan subur (yang menjadi kejayaan mahkluk vegetatif), mengeksploitasinya  atas nama “peradaban” spesies manusia: mengganti kesuburan hutan dan keindahan alam serta keseimbangannya dengan kota polutif yang dikatakan sebagai lambang “peradaban”.

Ego spesies ini juga terjadi  pada sesama spesies. Binatang saling  memangsa, berlaku hukum kanibalisme antar sesama jenis manusia: ego spesies manusia juga ego antar sesama spesies manusia  itu sendiri. Spesies ini saling mengeksploitasi dan saling memperbudak, saling  membunuh. Bahkan, dalam kapitalisme ini, kecenderungan destruktif dan eksploitatif itu semakin besar dan rakus.

Parameter kemanusiaan yang diperlihatkan oleh para nabi dan filsuf nampaknya, meskipun dalam hal tertentu sangat berbeda, bisa dikatakan bertemu dalam suatu titik temu—walaupun  diagnosa kemanusiaan tersebut memang tidak akan pernah sempurna karena manusia selalu tunduk pada misteri kosmos. Tapi setidaknya diagnosa kemanusiaan dan rekomendasi yang dibuat bisa dijadikan dasar untuk menciptakan hubungan sosial yang lebih baik.

Sejarah dibimbing oleh tenaga produktif dengan pikiran dan hati yang rindu masa depan, muaranya yang terus dicarinya. Air mengalir mencari muara tempat bertemu cita-cita kemanusiaan dari keping-keping perjalanan sejarah yang melintasi  semua bangsa, benua, dan bahasa.

Muara itu dapat direngkuh dengan hati dan pikiran untuk meraih objektifitas. Manusia pilihan, otentik dan menyejarah; mereka selalu merengkuh kehidupan dalam genggamannya, disinari pengetahuan tentang keberadaannya dan hubungan-hubungannya dengan hidup. Begitu  bersemangatnya mereka mengobarkan api pemberontakan terhadap kemunafikan, kebodohan, dan jaring-jaring penindasan. Pengetahuanlah  yang pertama kali  bersalaman dengan cita-cita humanisme.

Pengetahuan, hasil dari hati dan pikiran manusia untuk memeluk realitas.  Dialah yang mencopot kedok-kedok. Yang mengetahui rencana jahat dan menyusun langkah untuk mencegahnya. Dialah tenaga produktif sejati yang mengembangkan sejarah hingga manusia telah melangkah pada peradabannya yang terus maju dan masih mencari muara.

Ketika masyarakat baru  lahir, masyarakat lama ditinggalkan. Bayi baru telah lahir, mungkin mengorbankan banyak hal. Ibu bisa berdarah-darah (dan bahkan dijemput kematian), tetapi Ibu bisa sehat dan selamat atas kelahiran anaknya. Seorang pemikir dan pejuang rakyat progesif pernah berpesan: “Carilah bidan-bidan kiri yang handal agar revolusi menuju kelahiran masyarakat baru tidak sampai berdarah-darah, hingga seluruh mayoritas massa rakyat merayakan kelahiran bayi baru yang mungil, lucu dan imut, biar semua orang menangis dan tertawa dalam kebahagiaan untuk menyambutnya.”

Kelahiran adalah hasil dari pemberontakan. Darah lahir karena bertabrakan antara cita-cita baru dengan keinginan lama. Pengetahuan lama yang konservatif menginginkan kebodohan, pengetahuan baru menginginkan cita-cita mulia yang menaungi masa depan umat manusia. Ketika lahir di dunia manusia berada dalam keadaan bersih, tak ternoda, tak berdosa, putih kosong tanpa tulisan serta tiada coretan. Ketika muncul suara yang keras dan merengek-menangis,  telah ditandai munculnya sebuah kehidupan baru. Berlumur darah dan ketuban dari Ibu, telanjang tanpa  selembar kainpun. Tanpa celana, baju dan kebudayaan, tanpa koteka, tanpa jas almamater, tanpa mahkota dan tanpa pakaian resmi seperti para legeslatif dan majikan yang telah terlanjur jadi orang “kotor, misalnya koruptor”.

Sejak kelahirannya manusia telah ditakdirkan miskin, tapi  murni, tulus, tanpa tuntutan dan tak ternoda apalagi oportunis. Siapa dan apa yang disalahkan kemudian?: Setelah besar mereka berlagak secara vulgar di hadapan dirinya, menyangkal keabsahan dan keotentikannya, menempatkan diri sebagai makhluk hipokrit dan penipu—dan terparah lagi menciptakan jaring-jaring penindasan dan kemunafikan yang dilembagakan: Perbudakan, Feodalisme, Kapitalisme yang membuat manusia dalam perkembangannya menjadi sakit, penakut, angkuh, hipokrit, peragu, dan pengecut.

Takut pada kemiskinan? Takut menanggung resiko? Takut akan masa depan sendiri?

Takut, karena beban yang begitu berat harus ditanggung sendiri. Apalagi segala alat-alat produksi telah direbut minoritas; jadi takut kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup… Takut. Menyerah. Mengalah. Takhluk: harus melayani orang lain yang menguasainya, harus bertahan hidup untuk memberikan keringat, darah, dan air mata bagi penguasa alat-alat produksi. Melatih diri menjadi penakut dan pecundang, karena harus mengharapkan upah dan kedermawanan dari pemilik dan penguasa.

Kondisi manusia pun dibentuk oleh sejarah dan struktur sosial. Maka kemanusiaan yang sejati akan bergerak untuk mencari muara, mengatasi kontradiksi dan bergerak maju dengan bimbingan kerja, hati dan otak, menuju cita-cita umum manusia: masyarakat yang kondusif bagi keberadaannya. Tenaga produktif terus berkembang dan akan menghancurkan hambatan-hambatan material dan hubungan produksi yang membelenggu dan mengasingkannya.

Dahulu, presiden Susilo  Bambang Yudoyono pernah mencanangkan “budaya unggul” di negara ini. Mungkinkah hal itu terjadi jika syarat-syaratnya tidak dipenuhi oleh pemerintah. Budaya unggul seperti watak yang produktif, kreatif, inovatif, inventif, menyaratkan ketersediaan kondisi sosial, terutama kesehatan dan gizi yang layak, serta pendidikan yang dapat dijangkau oleh semua generasi muda. Nyatanya, budaya permisif, imitatif, eksploitatif, pasrah, dan lain-lainnya yang dehuman itu selalu saja dibentuk oleh media-media dan para pimpinan atau tokoh-tokoh kita.***

 

 

 

 

 


Blog EntryDec 5, '07 6:31 AM
for everyone


“The Kingdom”,

Satu Lagi Film Multikultural

setelah Babel

 

Oleh:

Nurani Soyomukti, penikmat dan pemerhati film

 

Menghabiskan malam minggu dengan nonton di bioskop yang cukup elit di Jakarta sungguh menyenangkan. Maka pilihlah film-film yang terbaik, bukan film Indonesia yang biasa tetapi film Hollywood yang alur dan ucapan-ucapan pemainnya berbobot.

 

Sabtu, 1 Desember 2007, pukul 20.22.

Setelah meluncur naik taksi dari TIM (Taman Ismail Marzuki), kami berdua memang agak terburu-buru karena ingin mengejar jadwal film. Pada malam minggu sebelum-sebelumnyanya, kami datang cukup awal. Niatnya agar dapat memilih secara khidmat film mana yang hendak kami tonton. Waktu itu kami menonton “The Residence Evil II”, yang dibintangi oleh Mila Jovovich—seri kedua ini lebih bagus dari pada “Resident Evil yang pertama”.

Nonton film di bioskop harus khidmat, karena rugi kalau tidak fokus, biayanya mahal. HP bahkan harus kumatikan—tidak peduli apakah kekasihku yang di kejauhan, waktu itu, kirim sms atau menelfon. Duduk berdua nonton bersama di sebuah bioskop terkenal Jakarta, ‘Jakarta Teathre’, membuat kami lupa akan segala-galanya.

Kali ini film-nya bukan hanya bagus, tetapi juga berkaitan dengan suatu hal yang selama ini kujalani. Film yang dilatarbelakangi oleh masalah politik memang lebih menarik. Selain itu film ini sangat—aku bilang—“MULTIKULTURAL”. Judulnya adalah “THE KINGDOM”. Tak heran jika seat di bioskop penuh, hanya tersisa 5 kursi—tidak seperti biasanya.

Film Kingdom ini mengingatkan aku pada film yang, menurutku, sangat  bagus, yaitu  BABEL”, karena sama-sama multilkulturalnya.

The Kingdom  adalah film tahun 2007 yang disutradarai  oleh Peter Berg dan dibintangi oleh Jamie Foxx, Chris Cooper, Jennifer Garner, Jason Bateman, Ashraf Barhom, dengan Kyle Chandler, dan Ali Suliman. Dan film ini disutradarai oleh Michael Mann, seorang yang dinominasikan dalam Academy Award.

Film ini memang bersifat fiktif, tetapi diilhami oleh peristiwa politik. Peristiwa tersebut adalah pengeboman di Riyadh yang terjadi pada 12 May 2003 dan di kompleks perumahan Khobar pada Juni 1996, di wilayah kerajaan Saudi Arabia. Kamp dan kompleks perumahan  itu ditempati orang-orang Amerika (AS) yang dilindungi oleh kerajaan, dibentengi dan dijaga untuk keamanan, dan di dalamnya orang-orang AS (keluarga-keluarga yang bekerja di Arab Saudi) bisa hidup dengan budayanya sendiri (tidak berjilbab, misalnya, tidak mengikuti hukum Arab yang Islamik).

Serangan teroris di kompleks perumahan pekerja luar negeri (kebanyakan warga AS) di Riyadh, membunuh lebih dari ratusan orang, kebanyakan Ibu dan anak-anak, termasuk juga seorang agen khusus Francis Manner (Kyle Chandler)—dia adalah agen FBI yang ditugaskan di Arab Saudi. Atas kasus itu, pihak diplomatik nampak enggan untuk mengirimkan timnya ke negara yang  menganut tatanan Monarki Absolut (kerajaan itu). Karena memiliki kepekaan yang kuat dan pengalaman pribadi terhadap kompleks perumahan tersebut, seorang agen khusus  Fleury (diperankan Jamie Foxx) membentuk timnya sendiri dan memimpin sebuah investigasi. Bersama agen Janet Mayes (Jennifer Garner), Adam Leavitt (Jason Bateman), dan Grant Sykes (Chris Cooper) yang berada di pihaknya, ia berharap dapat menemukan siapa yang bertanggungjawab  atas pengeboman tersebut.  

Dalam kasus investigasi inilah film ini sungguh memberikan gambaran yang menarik mengenai  ketegangan multikultural, dan film ini pulalah yang—menurut aku—juga memberi gambaran bagaimana ketegangan itu dapat diatasi dengan bekerja keras dan kerendahatian dalam menghadapi budaya komunitas masyarakat lainnya.

Diperlihatkan dalam film ini bahwa awalnya tim tersebut menghadapi birokrasi yang feudal dan memandang kehadiran orang Amerika secara hati-hati, bahkan ada yang penuh curiga. Dari berbagai macam percakapan, pertukaran pengalaman, penjelasan yang sabar dan menguatkan, tim ini melalui sang ketuanya akhirnya berhasil merebut hati dan memberi kepercayaan pada pejabat kepolisian Arab Saudi, Kolonel Faris Al Ghazi (Ashraf Barhom) dan koleganya Sgt Haytham (Ali Suliman). Dua tim dari “peradaban yang berbeda” akhirnya dapat menemukan pelaku kejahatan.

Yang dapat dipetik dari plot film ini, kemudian, adalah suatu hal yang sangar realistis: bahwa dua peradaban yang berbeda akan dapat menyatu jika memiliki musuh bersama yang harus diselesaikan dengan kerjasama, yaitu tindakan anti demokrasi dan kemanusiaan yang bernama Terorisme. Film ini juga menunjukkan kerendahatian peradaban Barat, yaitu bisa dilihat saat Janet Mayes (Jennifer Garner) sebagai satu-satunya perempuan dalam tim itu juga mau kompromis mengenakan kerudung saat pangeran Arab berkunjung ke pada tim FBI itu. Bahkan dia juga mau menerima ketika ia tidak boleh ikut saat sang Pangeran mengundang tim untuk datang ke kerajaannya karena acaranya adalah acara laki-laki.

Artinya, film ini nampaknya memang tidak begitu didasari oleh upaya menonjolkan kelebihan kebudayaan Barat. Kalau toh ada kontradiksi (baca: kelucuan) pada gambaran budaya Arab, cara penyajiannya benar-benar “intelek”, mulai menggambarkan kesalahpahaman dalam hal mengucapkan nama, nama makanan, hingga pemikiran yang berbeda. Toh kedua peradaban ternyata juga dipertemukan dengan pengalaman dan kepentingan universal. Fariz, misalnya, sebagai pimpinan kepolisian juga tidak membenci produk-produk Amerika. Ketika Fleury bertanya” “Mengapa kamu ingin menjadi polisi, Fariz?” Iapun menjawab bahwa semasa kecilnya ia sering menonton film-film Amerika, khususnya Hulk (The Incredible). Keduanya bahkan juga bercerita banyak hal yang akhirnya mengikat emosi antara keduanya, kedua peradaban.

Ikatan emosional  yang kuat itulah yang menyebabkan Fleury bersedih saat Fariz Al Ghazi terbunuh, tertembak oleh teroris. Tetapi peristiwa terakhir yang menyebabkan Fariz terbunuh itulah yang  menandai  terbongkarnya jaringan teroris yang bertanggung jawab, kelompok Abu Hamzah.

 

Multikulturalisme “Babel” yang Kritis

Kalau untuk fim ini aku nonton di CD room labtop. Film yang mendapatkan banyak penghargaan memang film yang baik, tak seperti Indonesia yang memenangkan film yang buruk, tak berkualitas, dan merusak kesehatan mental masyarakat khususnya kaum muda. Lihatlah, film “Babel” ini memenangkan  Golden Globe dan masuk nominasi Academy Award pada tahun 2006 (masuk 7 kategori, sebagai Best Picture, Best Director, dan dua nominasi untuk kategori Best Supporting Actress dan memenangkan  Best Original Score).

Film ini memfokuskan empat bingkai situasi dan para pelakunya yang saling berkaitan, dan banyak kejadian ditampilkan  dengan mengabaikan urutan. Tetapi jika diurutkan, setelah kita menonton penuh film ini, mungkin ceritanya akan seperti ini:

Di sebuah gurub pasir terpencil di wilayah selatan Maroko, Abdullah, seorang penggembala membeli senjata dan sekotak peluru dari Hassan Ibrahim yang hidup di desa tetangganya. Senjata itu akan digunakan untuk membunuh serigala yang seringkali menganggu kambing yang digembalakannya. Abdullah memberikan senjata itu pada dua  anak laki-lakinya, Yussef dan Ahmed. Lalu dia menyuruh keduanya untuk mengawasi serigala dan menembaknya jika binatang pemangsa itu muncul. Karena keduanya masih belajar soal senjata, kedua anak ini ingin mengetes apakah senjata itu benar-benar bisa ditembakkan dengan jarak tembak yang jauh. Mereka ingin mengetesnya dengan menembak batu  dan kemudian sebuah bus yang membawa penumpang para turis dari Barat yang sedang melintas di jalan di bawah bukit di mana kedua anak tersebut sedang menguji senjatanya. Yussef benar-benar menembak bus itu untuk menguji apakah senjata itu benar-benar bisa menembak jarak jauh sebagaimana dikatakan ayahnya. Peluru itu benar-benar mengenai salah satu penumpang bus itu, Susan Jones (diperankan Cate Blanchett), seorang warga AS dari San Diego yang sedang bepergian bersama suaminya Richard Jones (diperankan Brad Pitt).

Kedua anak itu tahu  dan menyadari apa yang terjadi dan melarikan diri dari tempat itu, dan langsung menyembunyikan senjata itu di puncak bukit pada malamnya.

Ternyata kejadian itu dipersepsikan secara lain di negara AS. Yang mewarnai berita-berita koran dan TV adalah bahwa penembakan itu dilakukan oleh pihak teroris dan berita tersebut nampaknya sesuai dengan  tujuan pemerintah AS untuk menekan pemerintahan Maroko agar menangkap pelaku kejahatan tersebut.

Setelah menelusuri kejadian tersebut dan mengetahui bahwa senjata itu milik Hasan, polisi Maroko langsung bergegas mendatangi rumahnya, menanyai secara kasar Hasan dan istrinya hingga mereka mengaku bahwa senjata itu  awalnya adalah milik orang Jepang yang memberikan senjata itu padanya, lalu kemudian dijual ke Abdullah.  Kejadian di rumah Hasan itu diketahui oleh Yussef dan Ahmed, mereka langsung lari ke rumah dan mengaku pada ayahnya tentang  kejadian yang sebenarnya—termasuk mengaku yakin bahwa senjata itu  telah menembak dan melukai  perempuan Amerika itu.

Mereka bertiga melarikan diri dari rumah, dan mengambil kembali senjata itu kemudian berencana pergi agar lolos dari kejaran polisi. Akan tetapi polisi berhasil mengepung mereka di lereng bukit yang berbatu. Tembak-tembakan terbuka pun terjadi. Setelah  kaki saudaranya tertembak, Yussef giliran menembaki polisi, tembakannya mengenai lengan salah seorang polisi. Polisipun semakin membabi buta, tembakannya mengenai saudara Yussef di bagian pinggangnya. Melihat ayahnya merasa marah bercampur sedih, Yussef akhirnya  menyerah dan mengakui semua yang dilakukannya, sambil meminta ampunan bagi keluarganya dan bantuan perawatan bagi saudaranya Ahmed. Polisi menahan Yussef.

Plot film ini dimulai dengan memotret kehidupan Richard dan Susan. Mereka akan  berwisata ke Maroko untuk melupakan kesedihan pernikahannya setelah anak ketiganya meninggal, yang menyebabkan hubungan keduanya kurang sehat dan seringkali saling menyalahkan. Ketika Susan tertembak di dalam bus itu, Richard memaksa sopir bus untuk mampir ke sebuah perkampungan untuk mencari dokter—nama desa yang digambarkan film ini adalah Tazarine. Susan mendapatkan perawatan seadanya, yang hanya cukup untuk menstabilkan keadaannya. Para turis lainnya marah-marah karena perjalanannya terganggu dan terhambat gara-gara mengurusi satu orang yang sakit. Mereka memaksa sopir untuk meninggalkan tempat itu segera juga karena takut kalau suatu waktu diserang oleh gerombolan teroris yang ada di daerah itu.

Karena Susan tidak mungkin meneruskan perjalanan naik bus, Richard meminta rombongan untuk menunggu sampai mendapatkan ambulans, yang ternyata tak pernah datang, dan akhirnya rombongan bus meninggalkannya pada saat Richard sedang menelfon minta bantuan. Anwar, seorang penduduk asli Maroko yang menjadi pemandu tour itu, menemani Richard dan Susan ditinggal oleh rombongan. Mereka  berhasil mengontak Kedutaan Besar AS di Maroko, melalui telfon umum satu-satunya yang ada di desa itu. Isu politik antara AS dan Maroko menyulitkan mereka mendapatkan bantuan secara cepat, tetapi pada akhirnya sebuah helikopter datang.  Dilaporkan bahwa, setelah 5 hari di rumah sakit, Susan sembuh dan dikirimkan ke rumahnya.

Pada seting lainnya dikisahkan tentang Chieko Wataya (diperankan Rinko Kikuchi), gadis remaja yang bisu-tulis  tetapi punya jiwa pemberontak. Ia mengalami trauma akibat kematian ibunya yang bunuh diri. Ia sangat benci dengan ayahnya, Yasujiro Wataya (diperankan Kōji Yakusho).

Chieko akhirnya bertemu dengan dua detektif yang menanyakan mengenai ayahnya. Ia tertarik pada salah satu detektif, Kenji Mamiya (diperankan Satoshi Nikaido). Ia mengundang kembali  Mamiya ke apartemennya dan ia bercerita banyak  tentang ayahnya. Secara salah menganggap bahwa detektif tersebut sedang menyelidiki keterlibatan ayahnya dalah kasus bunuh diri ibunya, ia malah menutup-nutupi dengan menjelaskan bahwa ayahnya sedang tidur ketika ibunya menjatuhkan dirinya dari balkoni, dan dia menyaksikannya sendiri.  Pada hal sebenarnya, sang detektif ingin menyelidiki keterlibatan ayahnya di  Moroko. Yasujiro sebenarnya adalah orang yang sangat keranjingan berburu, dan itulah yang dilakukan saat berada di Maroko saat berlibur ke negara itu. Setelah selesai berburu ia menghadiahkan  senjatanya pada Hasan yang berperan sebagai pemandunya—Hasan yang di awal film ini menual senjatanya kepada Abdullah.

Subplot lainnya terjadi di Amerika di mana pembantu Richard dan Susan yang berasal dari Meksiko, Amelia (diperankan Adriana Barraza) yang merawat kedua anaknya di rumahnya di California. Sebagaimana dikisahkan, ia terpaksa harus menjaga anak-anak tersebut lebih lama dari yang diharapkan karena orangtuanya yang sedang melakukan perjalanan tidak terlacak keberadaannya. Sementara dia harus pulang ke kampungnya di Meksiko karena harus menghadiri  perayaan pernikahan anak laki-lakinya. Tanpa harus menunggu kedua orangtua  dua anak pulang,  karena tak mau melewatkan perayaan anaknya, ia membawa kedua anak majikannya ke kampungnya. Keponakannya, Santiago (diperankan Gael garcia Bernal), bahkan menjemputnya untuk memastikan agar Amelia datang. Mereka melewati perbatasan negara AS-Meksiko yang keras dan ‘jahat’.

Akhirnya mereka sampai. Kegembira-riaan pesta pernikahan anaknya yang gaduh berlangsung sampai malam, tetapi Amelia memutuskan untuk pulang malam itu juga membawa anak-anak ke Amerika bersama Santiago. Karena pada saat pesta Santiago mabuk berat, hal itulah yang membawa masalah saat petugas penjaga perbatasan mencurigai tingkahlakunya.

Apalagi ada masalah lain yang membuat petugas itu curiga. Amelia memang memiliki pasport untuk keempat orang di dalam mobil itu, tetapi tidak memiliki surat ijin dari orangtua dua anak yang dibawanya keluar dari wilayah AS. Karena mabuk, Santiago memaksa menerobos perbatasan dengan kecepatan mobil yang tinggi. Lalu ia menurunkan dan meninggalkan Amelia dan dua anak itu, mencoba untuk mengecoh polisi yang mengejarnya.

Terdampar di gurun daerah perbatasan tanpa makanan dan air, Amelia dan dua orang bocah itu terpaksa menghabiskan malam di daerah itu. Menyadari bahwa mereka bisa mati jika tidak mendapatlkan bantuan, Amelia meninggalkan kedua anak itu di sebuah tempat. Amelia menyuruh mereka untuk meninggalkan tempat itu  dan ia mencari orang untuk minta bantuan. Akhirnya ia menemui petugas patroli perbatasan Amerika. Petugas itu menangkapnya dan ia akan menemukan anak-anak tetapi ternyata tidak dilakukan. Amelia menangis tersedu-sedu dan akhirnya petugas itu mengikutinya berjalan kembali ke tempat di mana ia meninggalkan kedua anak itu, tetapi ternyata tidak ditemukan. Amelia semakin sedih dan ia dibawa kembali ke pos penjagaan, di mana akhirnya dia mendapatkan informasi bahwa kedua anak tersebut telah ditemukan dan bahwa ayahnya, Richard. Bagaimanapun,  Amelia akan dideportasi dari AS di mana ia bekerja secara ilegal.

 

Babel sebagai Kritik Sosial

Sisi  kritis film “Babel” adalah gambaranya tentang rumitnya kehidupan gara-gara isu teroris yang dihembuskan oleh AS. Berawal dari senjata yang dibeli Abdullah dari Hasan yang tujuannya untuk kebutuhan ekonomi, mempertahankan hidup dengan cara melindungi kambingnya dari serigala gurun, agar ia bisa menghidupi anak-anak dan keluarganya dari hasil beternak domba/kambing.

Demikian juga Hasan yang mencari uang dengan cara menjadi pemandu seorang kaya dari Jepang. Bahkan untuk mendapatkan uang tambahan, senapan yang merupakan hadiah dari orang yang dipandunya juga dijual karena ia butuh uang, bukan senapan.

Isu teroris yang dihembuskan pemerintahan Amerika, terutama sejak peristiwa 9/11, ternyata telah menimbulkan kehidupan yang berjalan seperti biasa  begitu merepotkan orang yang  ingin mengembangkan hidupnya. Bahkan juga menambah masalah orang yang ingin berwisata.

Isu teroris juga membuat orang saling mencurigai dan AS harus memperketat penjagaan daerah perbatasan. Amelialah yang menderita kerugian, kedua orang anak itu juga menderita.

Film ini tentunya juga mengingatkan pada kita bahwa “war on teror” yang dilakukan AS membawa kecerobohan atau mirip tindakan yang membabi buta—yang menunjukkan arogansinya sebagai negara ‘Super power’. Itulah yang ingin disampaikan. Film yang bagus adalah film yang mengritik kebohongan dan kepunahan, mengangkat kisah orang-orang yang dilemahkan dan membimbing penonton agar melek tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Luar biasa film ini, aku sampai menontonnya berkali-kali, dan selalu kusarankan kawan dan siapapun untuk menonton film ini!***

 

Depok, 2 Desember 2007


 

Seniman Selebritis, Antara Narkoba dan Peran Sosial Humanis


Oleh: Nurani Soyomukti*)



Kasus tertangkapnya kembali artis-selebritis kawakan Roy Martin karena didapatan menggunakan narkoba semakin menambah bukti bahwa keteladanan figure popular di masyarakat kita semakin luntur. Pada hal, kalau mau jujur, posisi artis-selebritis di masyarakat cukup strategis dalam masyarakat kita. Kalau kita mau jujur, di tengah-tengah semaraknya isu kepemimpinan nasional dalam kaitannya dengan munculnya tokoh-tokoh yang menyatakan diri siap maju dalam bursa pertarungan presiden pada pemilu 2009, berita tentang artis-selebritis tetap tidak mampu mengalahkan popularitas mereka.

Dalam dominasi budaya popular yang berbasiskan ekonomi kapitalis (pasar bebas), ternyata figur sosial-politik di masyarakat relatif tidak begitu berpengaruh disbanding figur artis-selebritis di Negara manapun. Dan kekuatan figur justru akan kian naik jika ia memiliki perpaduan posisi baik sebagai artis-selebritis maupun sebagai tokoh social-politik. Bahkan dalam hal ini, apapun yang dilakukan, seorang tokoh yang awalnya bukan artis-selebritis dan hanya tokoh politik yang tidak begitu terkenal, akan menjadi tambah popular jika ia masuk dalam arus berita selebritis.

Kasus yang bisa kita ingat adalah apa yang terjadi pada Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Baqir. Sebelum menghiasi berita artis-selebritis (infoteinmen), popularitasnya biasa-biasa saja. Tetapi setelah kasus tersebut, popularitas ketua PAN ini meningkat. Pemberitaan media televisi, terutama melalui acara infoteinmen, adalah sarana untuk membuat keberadaan seseorang dikenal oleh publik—lepas dari apapun kasus yang diangkat.

Media memang bukan sekedar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi sekaligus membentuk suatu kesadaran massa. Apakah kehadiran figure yang dibesarkan oleh media akan mampu meningkatkan kehidupan demokrasi dalam hal kedewasaan berpikir dan kesadaran masyarakat? Sosiolog ternama seperti C. Wright Mills mengajukan pandangan yang pesimistik terhadap fungsi media. Dalam bukunya “The Power Elite” (1956), Mills mengutuk fungsi media yang lebih berfungsi sebagai instrument yang memfasilitasi—apa yang ia sebut sebagai—“kebutahurufan psikologis”. Mills juga memandang media sebagai pemimpin “dunia palsu” (pseudo-world), yang menyajikan realitas ksternal dan pengalaman internal serta penghancuran privasi dengan cara menghancurkan “peluang untuk pertukaran opini yang masuk akal dan tidak terburu-buru serta manusiawi”.

Berkaitan dengan itu, telah jelas bahwa media seperti TV juga hanya menjadikan masyarakat sebagai pemuja para elit, terutama selebritis, dan bukan memiliki sebuah pemikiran kritis dan tindakan partisipatif agar posisi elit terkontrol sehingga benar-benar mematuhi amanat demokrasi untuk membantu rakyat lepas dari kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi dan kebudayaan. Masalahnya industrialisasi media kapitalis menciptakan—apa yang disebut Alex Comfort sebagai—“masyarakat penonton” yang “berjejal-jejal tetapi kesepian, dipandang dari segi teknik sama sekali tidak merasa aman, dikndalikan oleh suatu mekanisme tata tertib yang rumit tetapi tidak bertanggungjawab terhadap individu”.


Artis-Selebritis Juga Manusia

Kegiatan menghibur di TV yang dilakukan oleh artis-selebritis memang dapat dikatakan sebagai upaya untuk menjauhkan masyarakat dari kesadaran akan realitas sejatinya. Rakyat yang miskin dan tertindas karena elit-elit politik dan pengambil kebijakan melakukan kebijakan yang menyengsarakan. Dan fungsi para “penghibur” itu adalah menciptakan ketentraman psikologis di kalangan rakyat pada saat mereka menonton. Kegiatan menonton, selain dapat melupakan rasa sedih dan duka akibat tertekan menghadapi sulitnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, juga dapat menimbulkan ilusi-ilusi seperti munculnya dorongan untuk meniru gaya hidup, tindakan, bahkan ucapan, dari para artis-selebritis yang sedang tampil di TV (baik melalui acara sinetron, infoteinmen, atau komentar-komentar yang dapat dijumpai dalam acara-acara lainnya).

Dalam acara TV itu artis-selebritis memang tampil sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan oleh rumah produksi atau manajer acara. Tapi apakah dalam kehidupan sehari-harinya dengan serta merta mereka seperti apa yang kita lihat di layar kaca? Seandainya tidak ada acara TV yang dengan sedemikian rupa mampu mengemas acara TV sehingga citranya begitu estetis, sesungguhnya mereka adalah manusia biasa yang memiliki kesibukan, kegiatan, dan seperti manusia lain mereka juga bekerja untuk mencari uang. Pekerjaan mereka memang relatif “nyantai” dibanding dengan sektor rakyat lainnya seperti buruh, tani, atau kalangan masyarakat lainnya.

Dalam struktur sosial, artis-selebritis dapat digolongkan dalam kelas menengah ke atas. Seharusnya mereka mampu memerankan dirinya untuk mengukir kebudayaan untuk membangun arah kemanusiaan. Karena, ketika urusan mereka adalah seni (keindahan), seharusnya mereka mulai berpikir tentang peran social, menimbang konsekuensi dari gaya hidup dan tingkahlakuknya bagi masyarakat. Dilihat dari posisinya, seharusnya kalangan artis-selebritis merupakan kaum intelektual yang mempunyai pengetahuan luas. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya? Mereka menjadi kalangan yang tingkat analisanya sangat tidak ilmiah dan cukup dangkal. Ini bisa kita lihat dari komentar-komentar mereka yang ringan, dangkal, hanya seputar gaya hidup; dan mereka juga akan ngomong sekenanya jika ditanya tentang persoalan serius. Kita dapat lihat dan dengar mereka di acara-acara infoteinmen. Bukankah dunia gosip adalah dunia wacana sekenanya dan bukan dunia untuk menjelaskan sesuatu secara objektif?

Orang yang tidak mampu memberikan penjelasan akan kehidupan dan realitas, karena terbiasa dengan kesenangan akan memiliki jauh dari pengetahuan (objektif). Sehingga ada fenomena yang sekarang ini menggejala dalam dunia artis-selebritis kita, yang dikotomis. Pertama, sebagian artis-selebritis lebih memilih dunia religius untuk mencari ketenangan batin, dan di antara mereka bahkan juga ada yang akhirnya mengimani relijiusitas; bahkan ada yang akhirnya menjadi kiai dan ustadz dan juru dakwah, seperti Gito Rollies, Astri Ivo, Neno Warisman, Hari Mukti, dan lain-lain.

Kedua, kebalikannya, sebagian besar artis-selebritis memilih mengkonsumsi narkoba sebagai cara untuk melepaskan kepenatan hari-hari dan menjelaskan eksistensi dirinya. Jangan dibayangkan bahwa kalangan artis adalah orang yang santai dalam hari-harinya. Apalagi di tengah persaingan antar artis yang kian hari kian ketat, mereka kadang harus bekerja “mati-matian” untuk dapat job. Apalagi kota Jakarta dengan kemacetannya adalah kota yang menyita banyak waktu, pada hal mereka dituntut bermobilitas tinggi, mulai membangun relasi, casting, atau butuh tepat waktu untuk melaksanakan tugasnya, apalagi kalau itu berhubungan dengan acara TV.


Peran Selebritis Humanis

Kita tidak perlu pesimis pada kecenderungan posisi dan peran artis-selebritis karena sekarang ini memang ada perkembangan baru. Beberapa artis mulai menyadari pentingnya berperan dalam ranah social politik untuk membangun bangsa dengan caranya yang partisipatoris dalam kegiatan positif yang bernuansa kemanusiaan dan baahkan gerakan kerakyatan. Mereka adalah beberapa artis yang memang memiliki partisipasi kreatif dan produktif dalam hari-harinya. Kalangan artis ini memiliki peran sosial, tidak semata-mata sibuk untuk mencari kesenangan diri dan menghibur masyarakat.

Mereka memanfaatkan waktu luang untuk menulis buku, terlibat dalam organisasi sosial dan acara-acara kemanusiaan. Artis seperti Rieke Dyah Pitaloka, Heppy Salma, Franky Sahilatua, Iwan Fals, Olga Lidya, Angelina Sondakh, Wanda Hamidah, Dede Yusuf, Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu, dan sederet nama-nama lain dikenal bukan hanya karena kemampuan mereka menghibur masyarakat dan mencari kesenangan diri. Tetapi juga dikenal sebagai aktivis, politikus, penulis, dan bahkan juga ada yang disebut intelektual.

Ada perkembangan menarik saat ini ketika banyak para artis yang tertarik untuk menulis buku, meskipun sekedar tulisan tentang kisah hidupnya. Itu adalah salah satu pelarian kreatif yang dapat mencegah kepenatan hari-hari mereka yang pada kenyataannya memang membuat penat, apalagi jika hanya diikuti dengan alur nafsu untuk sekedar mencari kesenangan dan bukannya untuk membentuk eksistensi diri untuk dapat berperan bukan hanya sebagai tukang pamer gaya hidup, tetapi juga ikut mendidik masyarakat. (*)




Memimpin Adalah Berkorban dan Melayani 

Judul Buku: Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik Radikal
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Resist Book
Cetakan : Pertama, Mei 2007
Tebal: 209 Halaman 

MENCARI pemimpin yang ”oke” segala-galanya memang sudah jadi asa kita selama ini.Tapi, selesaikah persoalan, jika kita punya pemimpin yang baik dan ”oke” segalanya? Jalan masih panjang, bahkan kita harus melacak juga akar masalah yang mendera negera-negara di dunia.  

Hadirnya pemimpin yang baik adalah salah satu upaya kita menyelesaikan masalah. Tapi, masalah utama adalah seberapa pantas sistem kapitalisme saat ini mengatur kehidupan satu masyarakat? Sayangnya, kita mesti mengakui bahwa sistem buatan manusia ini tak laik jalan lagi. Mari kita tengok Indonesia. Di negeri ini, sejak pemimpin yang pertama sampai yang sekarang, selalu berujung pada kondisi kolaps.

Melihat penyebab yang saling terkait, banyak orang lantas berpikir bahwa antara sistem dan individu itu seperti ayam dengan telur; tidak bisa dibedakan mana yang lebih dulu. Pola pikir dikotomis seperti ini tidak boleh digunakan, karena yang harus dilakukan adalah membangun keduanya secara simultan. Individu yang baik tidak akan lahir dalam sistem yang buruk. Sebaliknya, sistem yang baik tidak akan sempurna kebaikannya jika para pelaksananya buruk.

Buku ini mengungkapkan kepada kita potret kepemimpinan radikal yang sekarang sedang eksis di dunia internasional. Sosok yang dimunculkan itu adalah Hugo Chavez (Venezuela). Hugo Chavez adalah nama yang fenomenal. Setelah menduduki kursi kepresidenan, ia segera menggerakkan serangkaian politik radikal yang dijuluki sebagai Revolusi Bolivarian. Satu revolusi yang mengambil inspirasi dari cita-cita Simon Bolivar.

Buku ini menyingkap bagaimana Revolusi Bolivarian terbentuk, cita-cita dan keberhasilan yang dicapainya, serta bagaimana rakyat melalui Lingkaran Bolivarian mengorganisasi diri dan meraih kemenangan. Satu buku wajib yang penting untuk dibaca bagi siapa saja yang mendambakan politik radikal dan perubahan revolusioner di negeri ini.

Mau tahu negeri mana yang menggaji ibu rumah tangga? Ingin tahu negeri mana yang menggratiskan pendidikan dan kesehatan? Itulah yang sekarang sedang berjalan di Amerika Latin. Presidennya dengan keberanian yang memukau, menasionalisasi puluhan perusahaan asing dan dengan ”nekat” membagi susu sekaligus beras gratis untuk penduduk miskin. Di sana, seorang dokter harus bertanggung jawab pada puluhan keluarga miskin. Rakyat benar-benar diurus dan mereka yang miskin mendapat prioritas pelayanan. Presidennya hidup sederhana, dan tidak pernah merasa gentar dengan Amerika. Inilah kisah tentang Presiden Radikal yang tidak hanya memenangkan pemilu tapi juga memenuhi harapan rakyat kecil.

Sang penulis buku, menjerit menyaksikan apa yang terjadi di Indonesia. Pada saat para penguasa Amerika Latin melakukan nasionalisasi aset bangsa, maka Indonesia tambah girang menjual aset ekonomi nasional. Ketika Iran membangun program perumahan rakyat miskin , kita disuguhi fakta terjadinya penggusuran atas nama kebersihan dan ketertiban kota. Di kala Argentina mengangkat menteri khusus yang memburu mantan presiden yang kejam, kita malah punya jaksa agung yang menghadiahi ampunan untuk mantan kepala negara yang nyata berbuat salah. Pada waktu seorang presiden melakukan pemotongan gaji untuk semua kabinet, kita malah menaikkan gaji para anggota parlemen dan sejumlah pejabat. Buku ini ditulis semula untuk mengembalikan keyakinan dasar kita bahwa masih ada pilihan pemimpin alternatif.

Seorang pemimpin, sepatutnya seorang revolusioner. Tegar, tegas, dan memiliki keberanian. Mohammad Hatta pernah menyatakan, orang revolusioner harus berani hidup sengsara sandiri dan berani berdiri sendiri. Apa pun godaan dan cobaan , keyakinannya harus tetap ada.

Sudah saatnya bagi kita untuk memikirkan bahwa perkara kepemimpinan bukan sekadar persoalan siapa yang layak, melainkan "kemampuan dan kesediaan" mereka dalam berkorban untuk rakyat.

  (Kurnia, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung)***

 


Blog EntryNov 16, '07 7:12 AM
for everyone

Manfaat Menjadi Pembicara dan Pendengar 

 

PEMBICARA BELUM TENTU YANG LEBIH TAHU BANYAK HAL,

KADANG PENDENGAR ADALAH ORANG YANG LEBIH PINTAR, MEREKA SEAKAN MENJADI BODOH DAN TIDAK TAHU HANYA KARENA MEKANISME  DISKUSI DAN SEMINAR YANG KAKU, FORMAL, DAN CEREMONIAL.”

 

 

 

Kesimpulan itulah yang kembali kutegaskan setelah dari acara diskusi bedah bukuku di kampus FISIP Universitas Jember, Kamis 15 November 2007.

 

***

Mahasiswa yang idealis, mahasiswa yang resah. Itulah kesanku padanya.

Setelah acara bedah bukuku—“Revolusi Bolivarian”—selesai, anak muda itu menghampiriku. Waktu itu aku masih sedang  cuap-cuap sedikit  dengan dosen yang menjadi pembicara dalam acara bedah buku di kampus FISIP itu.

Pemuda itu namanya Rudi Haryoko, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) angkatan 2006. Ia tiba-tiba menghampiriku dan, tentu saja, mengatakan sesuatu yang memotong pembicaraanku dengan sang dosen yang baru saja  mengapresiasi pembicaraanku.

“Maaf Mas Nurani. Saya  tertarik sekali dengan yang tadi Anda omongkan, dan nampaknya ada keresahan yang sama dengan yang selama ini saya omongkan”, dia membuka mulutnya dengan nada yang rendah dan pelan, nada suara yang mengesankan padaku bahwa dia pemuda yuang sopan tetapi berani. Kemudian dia menceritakan bahwa dia  terlambat mengikuti acara itu dan tidak tahu sebelumnya.  Pada saat dia memasuki ruangan dan berusaha mendengarkan, waktu itu saya sedang berbicara soal pengaruh globalisasi terhadap budaya kaum muda dalam kaitannya dengan bagaimana mahasiswa sebagai peserta  kegiatan pendidikan hanya menjadi korban desainer budaya capitalis—dalam hal ini  secara teralienasi dan tanpa pertanyaan harus tunduk pada kurukulum dan pengajaran dalam kelas yang bersifat indoktrinatif, mendengarkan, mencatat, tanpa proses dialogis kritis.

Dia bilang bahwa sebenarnya mau bertanya soal hal yang sama, tetapi waktu yang ada dalam acara bedah buku itu sudah mau habis, karena aku memang membicarakan hal itu untuk memberikan motivasi pada mahasiswa HI yang hadir di forum kukatakan bahwa jika tak ingin jadi korban maka paling tidak kita harus konsisten  untuk belajar dan mempelajari apa yang menjadi bidang kita. Saya katakana bahwa ada perkembangan baru dalam kancah global, kalau kita mau konsisten pada gugusan ilmu HI seharusnyalah kita ikut mengabarkan apa yang terjadi, menyambut dan mengkritisinya. Dan mau tak mau saya juga harus mengatakan bahwa telah terjadi kemunduran di kalangan mahasiswa HI, sebagaimana mahasiswa secara umum karena pemilik modal internasional memang menginginkan mahasiswa “cacat”, tanpa  pengetahuan, dan lain sebagainya.

 

***

Iapun ternyata mengaku memiliki keresahan yang sama. Yang menarik dari Rudi, pemuda ini adalah bahwa, ia memiliki pemahaman yang banyak dan sentiment yang mendalam soal pendidikan. Dia mengatakan bahwa dia pernah membaca buku Ade Gunawan (nama yang belum kukenal sebelumnya, mungkin sudah pernah baca nama atau tulisannya tetapi tidak dapat kuingat—tapi dilihat dari fakta bahwa aku tidak mengingat namanya, berarti nama orang yang disebut pemuda ini sebagai pengamat pendidikan yang mempengaruhinya, tentu ia orang terkenal).

“Banyak sekali betul referensi  tentang pendidikan yang kau miliki, pada hal aku saja yang mau nerbitin buku soal pendidikan tidak menuliskan  contoh kasus yang kau ceritakan itu”, kataku padanya setelah diskusi informal itu dilanjutkan di kantin kampus. Rudi, mahasiswa semester 3  asal Banyuwangi ini,  memang banyak menceritakan hal-hal yang menunjukkan bahwa pendidikan yang selama ini dijalankan sama sekali salah. Meskipun ia tidak mengatakan bahwa kontradiksi pendidikan adalah capitalisasi dan komersialisasi (neoliberalisme), dan menurutku pemahamannya belum melihat itu, yang membuatku heran ia banyak sekali menunjuk kasus-kasus kesalahan pendidikan, mulai dari proses pembelajaran dan asumsi-asumsi yang salah dalam pembelajaran anak.

Dia bahkan tahu bahwa Indonesia adalah Negara yang menerapkan adanya PR (pekerjaan rumah) menjadi gejala yang menonjol dalam proses mengajar, dalam hal ini Indonesia hamper sama dengan Iran. Dia menceritakan bahwa di Jepang ada larangan memberikan PR bagi anak. Dan dia menegaskan bahwa yang lebih penting memang bukan membebani anak dengan pekerjaan rumah, tetapi proses motivasi dan interaksi dalam pengajaran yang membuat anak terinspirasi, kreatif, dan secara alam bawah sadar. Terus terang aku baru mendengarnya dari mulutnya.

Lalu dia menggugat standar IQ. Bagi dia ukuran yang dibuat untuk melihat sejauh mana IQ (Intellectual Quantum) pada anak-anak atau remaja tidak begitu valid dalam melihat tingkat kecerdasan anak, jika kecerdasan sebagai tujiuan dari pendidikan—pada hal bukan semata itu. Bukan kecerdasan semata tujuan pendidikan, bukan?

Standar IQ bahkan membuat anak yang merasa memilikinya dengan nilai tinggi merasa nyaman dan sombong, dan menganggap anak lain yang diklaim “ber-IQ rendah” merasa tertekan (frustasi). Aku juga baru sadar, bahwa yang dikatakannya benar.

Untuk menghilangkan rasa maluku bahwa ia lebih tahu, maka aku memotong pembicaraannya dengan mengatakan bahwa itu adalah bagian kecil dari kontradiksi dalam pendidikan kita yang sebenarnya mencerminkan kontradiksi kelas—analisa Marxianku yang merupakan teori makro lagi-lagi keluar. Kuberi contoh bahwa system kelas yang mendeskriminasi dalam dunia pendidikan juga muncul dalam banyak hal. Contoh kecil adalah deskriminasi yang tercipta secara psikologis  di kalangan anak-anak dalam satu kelas: di dalam kelas, antara anak-anak orang kaya dengan anak-anak orang miskin yang berbeda akan menimbulkan persoalan. Anak anak orang kaya “uang sangu”-nya banyak, peralatan-peralatan tulis, buku-buku tunjangannya lengkap, punya kesempatan untuk pamer tentang keluarganya (mulai  mainan yang dipunyai, jabatan dan kekayaan orangtuanya, dan lain-lain).

Anak-anak orang kaya juga bisa ikut bimbingan belajar yang efektif dan berbiaya mahal sehingga biasanya lebih pintar. Intinya, dalam banyak kasus anak-anak orang miskin yang secara psikologis dan eksistensi diri merasa kalah dalam bersaing, eksistensi dirinya akan kalah. Ketika tidak bisa pamer fasilitas belajar, kecerdasan, serta apapun, biasanya anak-anak akan iri dan hanya pamer kekuatan fisik. Aku memberi contoh kasus smack down yang  pernah semarak terjadi di kalangan anak-anak sekolah, bahkan hingga sekarang masih kerapkali terjadi.

 

***

Rudi adalah salah seorang mahasiswa baru yang resah akan dunia pendidikan kita. Dia mengajarkan padaku banyak hal, data dan informasi, juga contoh, dengan demikian menegaskan padaku bahwa dunia pendidikan kita memang rusak-rusakan. Rudi hadir padaku saat bukuku yang akan terbit, berjudul “PENDIDIKAN BERPERSPEKTIF GLOBALISASI”  sedang menunggu kata pengantar yang diberikan oleh Ibu Magdalena Sitorus Ketua Komite Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Jakarta sebelum diproses untuk diterbitkan. Sayangnya aku tak sempat mengedit naskah buku itu lagi. Seandainya masih bisa, tentu informasi dan data-data yang keluar dari mulut dan cerminan keresahannya bisa kutuliskan: Penulis bertugas untuk menangkan setiap ucapan dan informasi yang keluar begitu saja, akan hilang kalau tidak ditangkap dan distrukturkan dalam sebuah  bentuk tulisan yang enak dibaca.

 

Jum’at pukul 10.00. Kukirimkan sms padanya berbunyi: “Dunia yang tidak kita refleksikan adalah dunia yang tak pantas kita jalani  (SOCRATES)”.

Dia membalas pada pukul 13.25: “Maaf  Mas Nurani telat balas. TIDAK ADA ANAK YANG BODOH, YANG ADA ADALAH ANAK-ANAK YANG DIBODOHKAN OLEH SISTEM PENDIDIKAN KITA. Lagi ngapain Mas?” ***

 

 


Blog EntryNov 14, '07 1:38 AM
for everyone

Hugo Chavez dan Proses Kreatif-ku:

“Menulis Rakyat yang Berjuang Melawan

Penjajahan dan PenindasanӴ

 

Oleh:

Nurani Soyomukti

 

 

“Walaupun kami dogmatik, kami tak suka kultus individu. Kami tak mengajar orang-orang kami untuk percaya, melainkan untuk berpikir”.

(FIDEL CASTRO)

 

Kata-kata itu dikatakan oleh Fidel Castro suatu waktu. Ungkapan itu dimaksudkan untuk menjawab tuduhan-tuduhan dan segala fitnah  yang dialamatkan padanya dan pada negerinya yang menempuh jalan alternatif di luar jalan kapitalisme. Sosialisme Kuba seringkali didiskreditkan oleh Amerika Serikat (AS) dan para pendukungnya. Dengan media-media yang dikuasai oleh jaringan kapitalisme globalnya, perjuangan dan capaian rakyat Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro diisolasi dari komunitas internasional. Ditambah dengan propaganda bahwa tidak ada demokrasi di Kuba atau negara sosialis lainnya.

Yang dilakukan Castro adalah sebuah kepemimpinan revolusioner sebagai alternatif dari kepemimpinan elitis dan oligarkis sebagaimana terjadi di negara-negara kapitalis—oligarki modal. Sementara AS dan media propagandanya menyebarkan citra buruk terhadap kepemimpinan Castro, Paus Paulus pemimpin Vatikan yang pernah berkunjung ke Kuba justru  terheran-heran tentang apa yang terjadi di negara itu. Sosialisme telah memerankan bangunan kemanusiaan yang besar hingga Kuba telah menjadi negara dengan tingkat melek huruf tertinggi di dunia, pertanian organik ramah lingkungan yang maju, pendidikan gratis dan kesehatan yang memadai.

Bandingkan dengan negeri kita, yang para pemimpinnya justru pengecut menghadapi tekanan/intervensi asing dan hanya tunduk patuh pada pemodal asing: mereka yang oportunis dan pragmatis ini selalu saja menyerahkan kekayaan alam kita yang melimpah untuk dihisap oleh penjajah asing, menyerahkan buruh murah agar kapitalis mendapatkan keuntungan, serta membuka negeri kita sebagai pasar, sehingga masyarakat semakin tergantung dan hanya bisa mengonsumsi—tetapi tidak bisa mencipta (berproduksi dan berkreasi). Lihat saja besaran angaran  pendapatan dan belanja negara, semuanya justru habis untuk membayar utang.  RAPBN 2006, misalnya, digunakan untuk pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp 76,629 triliun atau 2,5% dari PDB, meningkat 0,3% dari APBN 2005. Sedangkan  pembayaran  cicilan utang pokok luar negeri sebesar 2,1 dari PDB; lebih besar dari alokasi anggaran untuk kesehatan yang besarnya hanya 0,4% dari PDB dan pendidikan 1,4% dari PB.

Berbeda dengan di Kuba yang menggartiskan pendidikan karena anggaran pendidikannya cukup besar, sekitar 8% dari PDB atau 2%  di atas anggaran pendidikan yang dianjurkan UNESCO. Peneliti barat masih terheran-heran bagaimana negeri Kuba yang diisolasi dan didiskreditkan AS  justru dapat menyaingi tandard pendidikan negara-negara imperialis seperti AS, Kanada, dan Inggris Raya. Dalam bidang  kesehatan, di Kuba angka kematian bayi dapat ditekan menjadi 5,2 per 1000 kelahiran dan harapan hidup meningkat menjadi 75 tahun (di Indonesia harapan hidup pada tingkat 66 tahun). Sekitar 524.000 anak-anak antara 3-9 tahun menapatkan vaksin polio dan dengan jumlah dokter 70.000 orang untuk 12 juta penduduk atau 1 dokter  untuk 600  orang (di Indonesia jumlah dokter 34.000 melayani 220 juta penduduk). Jika kpemimpinannya benar, Indonesia dapat melakukan hal yang lebih baik dari pada Kuba.

Apa yang terjadi di Kuba, dicontoh oleh revolusi bolivarian yang dijalankan oleh para aktivis di Venezuela yang dipimpin oleh Hugo Chavez. Keberanian dalam bertindak dan program-program alternatif sebagai jawaban atas kontradiksi pokok dan konkrit yang ada dilakukan oleh Chavez dalam para pendukungnya. Keberaniannya ditunjukkan dengan kemauannya untuk membuat seruan-seruan pada rakyat atas melencengnya pemerintahan yang pro-neoliberalisme dan propaganda   berupa jalan apa yang ditempuh. Tipe semacam inilah yang dsebut sebagai pemimpin massa rakyat  yang menempatkan dirinya sebagai pelopor perubahan dan pemimpin kesadaran massa. Bahkan, lebih dari itu, Chavez juga berani bertindak: pada tahun 1992 ia secara berani ingin merebut kekuasaan pro-neoliberal dengan cara melakukan kudeta. Meskipun gagal, kudeta 1992 yang justru mempercepat kesadaran rakyat hingga pada akhirnya berujung pada kemenangannya yang lebih nyata. Dengan program kemandirian nasional dan anti-neoliberal, dengan dukungan riil dari rakyat, pada tahun 1998 ia memenangkan  pemilu. Hugo Chavez segera dikenal sebagai presiden pembela rakyat, yang mengentaskan mereka dari kemiskinan, dan bahkan memberdayakannya secara politik. Artinya, kesejahteraan ekonomi dan demokrasi politik dijamin. Kesejahteraan ekonomi ditempuh dengan revolusi kebijakan ekonomi dari kapitalisme menuju sosialisme-kerakyatan.

 

***

Lalu siapakah yang akan menuliskan apa yang terjadi di Venezuela? Siapa yang menyebarkan adanya ”jalan lain” di luar neoliberalisme (kapitalisme, pasar bebas) yang banyak diamini oleh negara-negara yang secara ekonomi-politik masih terjajah (seperti negara kita)? Pada waktu itu, hingga memasuki tahun 2007, tidak ada yang menuliskan apa yang terjadi di Venezuela secara komprehensif dalam arti membahas konteks historis, kontradiksi, dan subjek gerakan yang mengantarkan Chavez menuju pada ”kepemimpinan alternatif” di era globalisasi neoliberal abad 21 ini. Aku ingin mengangkatnya, menuliskannya...

Dengan semangat dan kerja yang lama dan keras, dengan kesengajaan maupun tidak, bahkan melibatkan dan mengorbankan banyak hal, juga bantuan dari beberapa orang dan lembaga yang (mudah-mudahan tidak merasa) direpotkan, menuliskan sesuatu dalam bentuk buku ini  merupakan suatu hal yang monumental dalam hidupku. Sebagaimana muncul spirit tiba-tiba yang menyatu dengan narsisme dan gila publikasi—yang konon melekat pada psike penulis—saat tulisan kita (entah puisi, cerpen, esai, opini, dll) diterbitkan pertama kalinya di media massa, mungkin dapat dikatakan terjadi pula saat buku kita pertama kali diterbitkan.

Tetapi, proses kreatifku melampaui itu semua, ada dinamika psikis, tetapi juga ada (yang dominan) kehendak ideologis—saoal pandangan hidup, soal pilihan, dan soal konsekuensi!

Hasil studi yang kutuangkan dalam buku ini merupakan bagian dari proyek besarku untuk mendokumentasikan gerakan rakyat melawan globalisasi neoliberalisme. Sejak ada gejala perlawanan baru yang berhasil di sebuah kawasan, tepatnya Amerika Latin, aku kembali berusaha melanjutkan usahaku untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa kapitalisme bukanlah ‘akhir sejarah’ sebagaimana dipropagandakan dengan manisnya oleh akademisi Washington, Francis Fukuyama.

Yang aku lanjutkan sebenarnya adalah studi yang dapat dikatakan terlunta-lunta  dalam posisiku  (waktu itu) sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional—di sebuah kampus yang tidak dapat dikatakan besar, modern, dan kondusif bagi pengembangan naluri ilmiah-akademik—FISIP Universitas Jember. Mungkin juga karena basis individualku  yang agak ‘gaptek’ (gagap teknologi), sehingga kemampuan mencari informasi dan data melalui internet justru berlaku saat aku  terpaksa (harus) menyelesaikan tugas akhir (skripsi) yang telah tertunda selama setahun. Studi anti-globalisasi justru dipicu oleh posisiku sebagai “aktivis”—begitu orang-orang menyebutnya.

Pada saat mengerjakan skripsi yang kelar pada awal tahun 2004, sesungguhnya aku  masih buta tentang apa yang terjadi di Amerika Latin, setelah Hugo Chavez menang   pemilu 1998. Bahkan nama “Hugo Chavez” sama sekali tidak ditemukan dalam skripsiku, pada hal skripsiku juga banyak mengutuk globalisasi neoliberal dan sedikit umpatan emosional terhadap Amerika Serikat (AS)—dan pada waktu itu pemerintahan Chavez juga telah berjalan 5 tahun. Mungkin karena nama Hugo Chavez memang belum banyak dimuat di media—pada hal ia melakukan kebijakan nasionalisasi (anti-neoliberal) pada tahun 2001 saat pembuatan UU Hidrokarbon meresahkan pemodal asing yang sebelumnya menikmati banyak keuntungan dari minyak Venezuela, atau aku yang memang belum begitu peduli.

Dan karena kondisi itu, aku  merasa bahwa aku terlambat mengetahui hal-hal yang terjadi di dunia, khususnya Amerika Latin. Setelah dipercaya oleh kawan-kawan untuk duduk di kepengurusan pusat  sebuah organisasi anti-globalisasi neoliberal di Jakarta, aku lebih minder lagi atas keterlambatan informasi itu. Ternyata beberapa kawan bahkan pernah beberapa kali pergi ke Venezuela. Dan informasi tentang perkembangan sosial-politik yang terjadi memang menarik, menghenyak karena data-data itu sebenarnya bukti-bukti riil yang mendukung proyek menyerang tesis “akhir sejarah” Fukuyama yang pernah aku lakukan saat  menulis skripsi sebagai tugas akhir dulu.

Itulah yang kemudian mendorongku untuk mencari-cari informasi dan ‘berita baik’ tentang tanda-tanda keruntuhan  kapitalisme-neoliberalisme, sekaligus menyokong kepercayaan dan analisis bahwa sosialisme sebagai jalan alternatif politik masih viable dan compatible di era modern—dan memang oleh pencetusnya, sosialisme lebih cocok dalam fase masyarakat yang mencapai basis produksi modern, matang, dan dewasa, tidak feodal, barbar, dan tradisional.

Tetapi, mungkin yang kulakukan (dan yang jarang dilakukan kawan-kawanku  lainnya) adalah (kemampuan yang kuat untuk) mendokumentasikan data-data itu. Hingga aku, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan (meskipun bukan tindakan illegal), banyak melakukan kegiatan menterjemahkan  gagasan dan informasi tentang Amerika Latin (meskipun  terbatas pada negara-negara yang memenangkan gerakan Kiri, khususnya Hugo Chavez). Seakan aku seperti kembali menjadi mahasiswa yang harus kembali menulis skripsi.

Kemenangan Evo Morales di Bolivia menambah semangatku, lalu belakangan juga Daniel Ortega—dan berita tentang upaya penyatuan alternatif negara-negara yang anti-neoliberalisme dalam ALBA sebagaimana digagas Hugo Chavez, Morales, Fidel Castro, membuat info yang saya geluti semakin semarak dan (tentunya) mengasyikkan.

Apa yang kulakukan ternyata membawa manfaat. Data-data dan informasi, juga gagasan-gagasan itu akhirnya  berguna. Beberapa kawan baik di organisasi dan beberapa mahasiswa Hubungan Internasional menghubungiku untuk menggunakan data-data itu untuk menulis tugas mata kuliah dan skripsi. Secara pribadi, terus terang aku tidak mendukung propaganda “hak kepemilikan intelektual” (intellectual property right) yang dicanangkan para  pemodal besar: Hasil terjemahan yang kulakukan dan informasi-infomasi itupun dipakai. Di antara mereka ada yang memberikan “sejumlah” materi untuk biaya terjemahan, dan hal itu justru kian menambah amunisi bagiku untuk mencari info yang lebih banyak—waktu yang aku  habiskan untuk searching data-data via internet (yang tentu saja dikomersialkan oleh pengusahanya) semakin banyak. Dan dengan internet pula, gerakan anti-globalisasi—melalui penggalian data, korespondensi (via e-mail), dan memasang gagasanku di media (dalam bentuk esai, opini, artikel, resensi buku—semakin mungkin.[1]

Pengakuan tersebut juga sekaligus ingin aku hubungkan dengan fakta bahwa internet masih menjadi satu-satunya teknologi yang paling membantu dalam mengumpulkan informasi yang aku  geluti selama ini. Buku-buku tentang Amerika Latin masih jarang, apalagi tentang negara-negaranya yang menempuh jalur anti-kapitalisme dan menerapkan kebijakan kerakyatan (sosialisme) masih sangatlah jarang.  Literatur-literatur di Ilmu Hubungan Internasional atau jurusan-jurusan yang ada keterkaitannya dengan sosial, politik, dan pemerintahan juga kekurangan informasi. Seorang kawan yang menjadi dosen/pengajar  di Ilmu Hubungan Internasional sebuah universitas negeri yang terkenal di Jakarta, UI, Mas Nur Imam Subono, bahkan mengakui dan mengatakan padaku bahwa kajian Amerika Latin sepertinya diasingkan, dengan cara membatasi literatur-literaturnya (baik sengaja ataupun tidak)—hingga ia sempat tidak tertarik untuk mendalami kajian tentang kawasan itu.

Inilah yang membuat aku agak “bangga” (narsis?) setelah buku pertama  yang berjudul “Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik Radikal” (2007) terbit. Semangat untuk mengumpulkan dan menstrukturkan informasi-informasi dan data-data (tentu saja diramu dalam gagasan) menjadi sebuah buku nampaknya akan menjadi kegiatan yang menarik sebagai aktifitas dalam hidupku—biarlah aku dicap sebagai “sok intelektualis”, “Marxis legal”, atau apapun oleh sebagian orang: aku  tetap akan berupaya berperan sebaik mungkin.

Dalam proyek ini, mungkin aku  akan menghibur diri  dengan menjuluki posisi dan peranku sebagai seorang “dokumentor”. Masalahnya, tujuan utamaku adalah mendokumentasikan tentang apa yang terjadi: bahwa kapitalisme dapat dikalahkan dan digantikan dengan tatanan yang lebih adil; Ada langkah-langkah, strategi-taktik, dan program—tentunya landasan ideologis, watak, dan tindakan—yang bisa dijadikan contoh oleh politisi, intelektual, aktifis, dan siapapun mereka yang menyukai perubahan.

Hakekat kegiatan dokumentasi juga dikaitkan dengan fakta bahwa aku menyebutkan sumber-sumber informasi yang ada, mungkin kesannya seperti format skripsi—tapi maksudku adalah bahwa pembaca bisa mengerti siapa dan apakah penggali informasi tersebut, agar ilmiah, objektif, dan jujur. Dan aku memang keranjingan pada karya ilmiah, bukan sekedar propaganda atau provokasi!!

Hugo Chavez tidak sendirian, karenanya buku yang berjudul “Akhir dari ‘Akhir Sejarah’: Sandinista Mengalahkan Amerika” akan menyusul. Buku kedua ini masih merupakan dokumentasi proses gerakan sebuah organisasi politik yang dalam sejarahnya sangat berperan dalam memimpin perjuangan rakyat di Nikaragua, sebuah negara di kawasan Karibia. Peran Sandinista di negara Nikaragua mengiringi sejarah yang panjang bersama  dinamika rakyat berhadapan dengan imperialisme Amerika Serikat dan kapitalisme global. Kemenangan kembali Sandinista di tahun 2006, pada saat gelombang gerakan Kiri semarak, akan menambah warna politik yang cukup berpengaruh. Kemenangannya tentu saja tak lepas dari suasana berlawan yang semakin kental di kawasan ini. Tak salah jika di bagian awal buku ini saya mengambarkan daya sokong perlawanan di kawasan, di negara-negara tetangga Nikaragua. Bangkitnya politik Kiri adalah ancaman bagi kelangsungan kekuasaan liberal rejim-rejim yang ada, yang bisa jadi menunggu waktu dalam hal kerontokannya melawan organisasi-organisasi Kiri yang semakin populer.

Ah, betapa sombongnya di sini jika kukatakan bahwa aku ingin karya-karya tersebut mengisi kekosongan literatur alternatif dalam kajian inernasional/kawasan dan kepolitikan global, terutama bagi mereka yang  tertarik dengan gerakan anti-globalisasi. Tetapi kuakui bahwa karya-karyaku bukanlah sumber yang  lengkap dan sempurna, dan justru karena itulah aku ingin menyampaikan permintaan maaf apabila masih ada keterbatasan dari proyek ini.

Beberapa waktu lalu, selama beberapa hari, rubrik internasional media massa negara-negara di di muka bumi dihiasi berita tentang kemenangan Cristina Fernandez, perempuan yang pada tahun 1970-an aktif di organisasi Tendensi Revolusioner Argentina. Perempuan ini menang karena pendukung utamanya adalah “kaum papa” di Argentina. “Kemenangan presiden baru Argentina adalah kemenangan seluruh perempuan Amerika Latin,” kata Presiden Venezuela Hugo Chaves.[2]  Hugo Chavez termasuk salah satu tokoh presiden tetangga yang pertama kali mengucapkan selamat, selain Lula Da Silva presiden Brazil. Hugo Chavez selama ini memimpin perlawanan terhadap AS dan neoliberalisme di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Fernandez terpilih dan akan menggantikan suaminya yang telah menjadi presiden yang cukup berhasil, juga sama radikalnya dengan Chavez, Morales, Ortega, dan tokoh-tokoh lainnya di kawasan ini. Suaminya adalah Neztor Kirchner yang pada 2005 menyatakan bahwa  perjanjian perdagangan bebas (FTAA) adalah kebohongan, dan bahkan ia menolak membayar utang  yang selama ini digunakan lembaga imperialis untuk menjerat negaranya. Sulit bagi Fernandez untuk berbeda dalam garis kebijakannya dengan suaminya, apalagi dua hati dan pikiran (Kirchner dan Fernandez sebagai suami-istri) telah terpaut sejak keduanya kuliah bidang Hukum dan menjadi aktivis.

What’s next?  Mempelajari kisah-kisah perlawanan—juga kepahlawanan—itu “asyik”: sebagaimana mahasiswa Hubungan Internasional (HI) yang selalu interested untuk mempelajari Negara-negara lain. Menulis kisah-kisah perlawanan  itu menarik. Menulis para pemberani menarik—juga untuk mengumpat para pengecut seperti elit-elit negeri kita Indonesia yang, karena neoliberalisme, rakyatnya semakin sengsara. A Luta Continua!

 

 

Revolusi bukanlah Chavez… Revolusi akan terjadi dengan atau tanpa dia. Chavez adalah suara dari rakyat Venezuela, tetapi rakyat Venezuela sendirilah yang akan mengubah Negara ini. Kami mengikuti ide Simon Bolivar dan gerakan proyek Bolivarian di Amerika Latin!!!

(MERCADO, Seorang aktivis Lingkaran Bolivarian)

 

 

Jember, 15 November  2007

 

 



¥ Dipropagandakan dalam cara Bedah Buku “REVOLUSI BOLIVARIAN, HUGO CHAVEZ, DAN POLITIK RADIKAL”, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) FISIP UNEJ, di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember (FISIP UNEJ), Kamis 15 November 2007.

[1] Hal ini sekaligus membuktikan bahwa  semakin matang tenaga produktif kapitalis, teknologi kian maju, kapitalisme  semakin terancam. (Upaya memajukan tenaga produksi tentu saja tak akan dilakukan oleh kapitalis kalau tidak menguntungkan. Internet adalah produk lama, teknologi perang yang telah digunakan sejak lama, bukan hal baru. Tetapi waktu itu tidak dimassalkan karena masih ada roduk lain yang dapat digunakan untuk mencari keuntungan, belum mengalami titik jenuh. Sekarang internet diluncurkan, di massalkan, awalnya dengan harga mahal, tetapi semakin murah... dan gerakan anti-AS dan anti-kapitalisme justru memanfaatkan  teknologi ini).

 

[2] “Kaum Papa Dukung Fernandez: Kebijakan Ekonomi Suaminya Akan Diteruskan”, Kompas, Rabu 31 Oktober 2007

 




 
Kaum Muda Sebagai Agen
Counter-Culture (Budaya Tanding)

(Dimuat di KOMPAS Jawa Timur, Senin 29 Oktober 2007)

Oleh:
Nurani Soyomukti, Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga 2007; aktivis Jaringan Kaum Muda untuk Kemandirian Nasional (JAMAN); pendiri Yayasan KOMUNITAS TEMAN KATAKATA (KOTEKA).


Momentum Sumpah Pemuda 1928 adalah momentum budaya tanding karena pada waktu itu kaum muda menggulirkan garis kebudayaan secara tegas. Pertama, mereka berupaya menggarisbawahi budaya persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dengan maksud untuk membuat garis yang berbeda dari kaum tua yang feudal, yang kebanyakan mendukung hegemoni kolonialisme terhadap kalangan istana untuk melanggengkan penjajahan. Kedua, kaum muda menyatakan pandangan politiknya terhadap independensi suatu masyarakat bangsa dari penjajahan asing.

Semangat menggulirkan budaya tanding itulah yang kini harus kita warisi karena kaum muda memang dikenal sebagai kalangan yang kritis dan berani, yang kadang juga berani berbeda dari budaya mainstream yang digunakan oleh kekuasaan sebagai topeng menyembunyikan penindasan.

Tantangan Globalisasi
Dewasa ini kaum muda memang menghadapi sebuah kekuasaan global yang menginginkan kaum muda tidak bisa kritis. Dalam kapitalisme global, ada dua hal yang bertentangan dalam segi kebudayaan: antara kebutuhan rakyat dan kaum muda untuk mencari-cari kreatifitas kebudayaaan pada saat hakekat manusia adalah menyalurkan aktualisasi dirinya melalui budaya (seni, gaya hidup, sastra, dan lain-lain) dengan konsepsi dan praktek kebudayan kapitalis yang cenderung menuju proses homogenisasi—yang melanggengkan penindasan pada aras hubungan ekonomi.

Dari sinilah kemudian kita masih saja dapat menemukan kaum muda yang kritis dan tidak semata-mata menuruti apa yang diarahkan oleh kebudayaan kapitalis yang represif. Kalangan kaum muda ini menciptakan suatu kebudayaan yang bahkan mencoba mendefinsikan realitas untuk melawan kecenderungan umum yang berkembang dan dikembangkan untuk menyangga tatanan ekonomi kapitalis. Inilah yang dalam istilah kebudayaan dapat disebut counter-culture (budaya tanding).


Istilah “budaya tandingan” (counter-culture) itu sendiri berasal masyarakat Barat. Rozak, dalam bukunya yang amat berpengaruh The Making of Counter Culture, menenkankan aspek oposisi dari budaya tandingan terhadap susunan masyarakat teknokratis-kapitalis yang mendominasi kebudayaan Barat di era tahun 1960-an. Masyarakat kapitalis waktu itu dianggap koruptif karena menekankan rasionalitas yang represif; rasionalitas yang membuat manusia terasing, homeless mind, serta—sekali lagi, apa yang disebut Herbert Marcuse—one-dimensional. John Milton Yinger, dalam bukunya Counter Culture (1982), mendefinsikan istilah “budaya tandingan” sebagai “seperangkat norma dan nilai dari sebuah kelompok yang secara tajam bertentangan dengan norma dan nilai dominan dalam masyarakat di mana kelompok itu menjadi bagiannya”.

Di Barat, para agen budaya tanding adalah kaum muda yang mengalami keresahan terhadap krisis kapitalisme yang memiskinkan dan juga dilakukan tak manusiawi dengan jalan perang. Para kaum muda ini menciptakan gaya hidup dan menciptakan produk seni, sastra, dan budaya yang kritis terhadap perkembangan kebudayaan dominan yang dianggap mengasingkan (alienating). Mereka seringkali disebut sebagai “generasi bunga” (flower generation) yang memperjuangkan kesetaraan.

Kaum muda berani menyatakan pikiran dan orientasi gerakan yang berbeda. Pertanyaan tersebut diwakili oleh syair lagu The Police yang berjudul “Born in the 50’s”: “We are the class, they couldn’t teach, cause we know better!” (Kami adalah generasi yang tak dapat mereka didik, karena kami memahami lebih baik). Budaya dominan yang menyebar dianggap tidak mampu memberikan apa-apa karena hanya dangkal dan beku, sedangkan kaum muda yang mampu merasakan dan mengetahui lebih baik ini menginginkan gaya hidup yang berbeda.
Di Indonesia budaya tanding juga menjadi ciri khas dari gerakan kaum muda yang dimuali dengan kemampuan untuk merasakan kontradiksi yang muncul. Gerakan mahasiswa melawan Orde Baru merupakan fakta sejarah yang paling menonjol. Pengaruh budaya tanding tahun 1960-an di Barat juga berimbas pada kaum muda yang mampu mengakses informasi dan ilmu pengetahuan ini. Gerakan kaum muda pun harus selalu tampil dalam setiap sejarah di mana kebudayaan dijadikan topeng kekuasaan yang menindas.

Sekarang ini, banyak orang yang pesimis pada kaum muda. Mereka diarahkan oleh media dan idola semacam “artis-selebritis” yang hanya menegaskan peradaban gosip, peradaban lisan yang selama berabad-abad membuat rakyat nusantara dibodohi oleh kekuasaan (feodal) di istana. Idola itu menghambat kemajuan peradaban literer (baca-tulis) yang diwariskan oleh aktivis pergerakan melawan penjajah melalui pers dan kesusastraan.

Pahlawan masa lalu mengajarkan pentingnya pena dan organisasi dalam menjawab perubahan dalam masyarakat kita yang berada dalam cengkeraman penindasan. Kebesaran R.A.Kartini, Ki Hajar Dewantoro dan tokoh-tokoh pergerakan seperti Raden Mas Marco Kartodikromo, Tirto Adisuryo, Semaoen, Haji Misbach; lalu Sutan Takdir Ali Syahbana (STA), Chairil Anwar; lalu Pramoedya Ananta Toer, WS. Rendra, Umar Khayam, Widji Thukul, dan lain-lain; semua menegaskan cita-cita pencerahan dan pembebasan rakyat melalui tulisan-tulisan dan gerakan kebudayaan.

Pahlawan masa kini justru membodohi anak-anak, remaja, dan orang dewasa dan menggiring mereka pada kehidupan satu dimensi: Pasar. Sekarang ini, di tengah-tengah masyarakat yang masih menggunakan bahasa dan kata-kata sekedar untuk menghafal nama-nama pemain sinetron dan sepakbola, sekedar untuk melihat berapa persen diskon harga baju yang lagi “ngetrend”, para pahlawan sejati masa kini karus mendekatkan bahasa dan sastra pada dunia kemanusiaan.

Lalu di manakah celah bagi munculnya budaya tanding di era sekarang ini? Kita harus percaya bahwa sejarah berjalan dengan berbagai macam konjungturnya. Akan ada epos di mana kaum muda dapat tampil kembali saat sistem yang dijalankan oleh kaum tua dan konservatif mengalami kebuntuan. Mereka akan memainkan perannya, sebagaimana selalu terjadi dalam sejarah.***



 

“Kita harus mengobarkan dan melibatkan diri di dalam pertempuran gagasan. Sekarang bukan-lah lagi pertempuran elektoral, meski memang kita harus terlibat juga di tahun-tahun mendatang. Ini merupakan pertempuran gagasan atas proyek sosialis, dan untuk itu kalian semua harus lebih banyak belajar. Belajarlah lebih giat, banyak-banyaklah membaca dan berdiskusi, mengorganisir seminar-seminar meja bundar, meja panjang, mengorganisir pertemuan-pertemuan para regu sosialis dan peleton-peleton sosialis. Ya, Membaca! Dan kami-kami yang berada dalam pos komando yang sejauh ini telah memajukan proses ini, kami harus menyebarluaskan banyak informasi, leaflet dan sebagainya.”

 

(Hugo Chavez, presiden Venezuela)


Blog EntryOct 7, '07 4:51 AM
for everyone



KUKUTIP DARI: detik@plinplan on 01 Oct 2007
http://detik.plinplan.com/2007/10/01/inggris-moderenkan-buku-tua/

Inggris - Buku-buku tua milik perpustakaan Inggris akan dimoderenkan melalui proses digital. Jumlahnya lebih dari 100.000 buku yang merupakan keluaran abad 18 dan 19.
Menurut rencana, sebagai langkah awal dari program ini, buku-buku keluaran abad 19 akan lebih diprioritaskan. Pasalnya, kumpulan buku di masa itu dianggap kurang begitu dikenal karena hanya dicetak ulang dalam jumlah yang sedikit setelah edisi pertamanya.
Program digitaliasi ini ditujukan untuk memudahkan para pendidik dalam mencari referensi dalam mengajar. “Jika tidak ada edisi modern, para pengajar tidak dapat menggunakannya saat mengajar,” ujar Dr Kristian Jensen, dari perpustakaan Inggris.
Setiap harinya jumlah halaman yang dipindai mencapai 50.000 halaman. Ada 30 terabyte kapasitas data yang disediakan untuk menampung proyek ini. Diharapkan, 25 juta halaman pertama dapat selesai dalam kurun waktu dua tahun. Sementara kategori baru akan melengkapi kumpulan buku sejarah yang telah lebih dahulu tersedia versi digitalnya.
Ada dua sumber komersial yang ikut serta dalam program ini, yaitu The Early English Books Online dan The Eighteenth Century Collections Online. Mereka menyediakan koleksinya secara cuma-cuma bagi institusi pendidikan tinggi di Inggris. Sumber digital lain untuk melengkapi koleksi perpustakaan Inggris akan berasal dari dua juta halaman surat kabar dari abad 19 dan satu juta halaman dari abad 18.
Seperti dikutip detikINET dari BBC, Senin (1/10/2007), untuk mengakses versi digital ini akan disediakan dua cara, yakni melalui Microsoft’s Live Search Books dan melalui situs perpustakaan Inggris.
Situs ini juga dilengkapi fitur ‘pencarian teks’ untuk memudahkan orang dalam mencari buku-buku yang diinginkan, karena tinggal mengetik kata kunci dari materi yang dicari.
Jika Microsoft bekerja sama dengan perpustakaan Inggris, lain lagi dengan Google. Seakan tak mau kalah, raksasa mesin pencari di internet ini juga telah menggandeng lima perpustakaan ternama sekaligus, yakni Stanford, Harvard, Michigan, New York dan Bodleian di Oxford.


Blog EntryOct 7, '07 4:45 AM
for everyone

Dari Etika Sastra  Menuju  Etika Global (Global Ethic)

 

Oleh:

Nurani Soyomukti,

Esais dan pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (KOTEKA) Jakarta

 

Tidak ada yang menyangkal bagaimana peran satra dalam mempengaruhi kehidupan manusia.  Mendiang presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy pernah mengatakan bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya. Sastra sebagai penggerak semangat  perjuangan rakyat bukanlah hal baru. Di India, puisi-puisi Rabindranat Tagore turut membantu mendorong rakyat  di sana untuk melawan penjajahan Inggris. Di Indonesia juga demikian, karya sastra Pramodeya Ananta Toer, W.S. Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lainnya juga mengasah inspirasi perlawanan terhadap penindasan pemerintahan Soeharto yang lengser di tahun 1998.

Sastra mengasah jiwa, membuka kepekaan diri akan situasi yang berkembang. Ketika perang dan kekerasan membuat kemanusiaan membeku, sastra diharapkan melahirkan norma-norma dari yang bersifat estetis menuju pada kemunculan etika dalam menjalani hubungan antara umat manusia. Penyair Sutardji Calzoum Bachri pernah mengatakan bahwa jika tentara punya panser dan peluru, penyair hanya punya kata-kata. Sehingga kita berharap Festival Sastra Internasional akan dapat membuka mata hati  masyarakat dunia bahwa kata-kata adalah alat yang penting untuk menyelesaikan masalah dibanding cara-cara militeristik sebagaimana sering kita saksikan. Keindahan dapat meningkatkan kepekaan sehingga banyak yang memahami bahwa etika sangat diperlukan dalam berhubungan sosial.

Menurut Hans Kung (1991) dalam bukunya Global Responsibility In Search of a New World Ethic mengatakan bahwa  untuk menghindari bencana yang barangkali akan semakin membesar ini tidak bisa tidak harus ada suatu pergeseran nilai dalam paradigma kehidupan manusia. Pergerakan dari nilai-nilai modernitas ke “paska modernitas” ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, perubahan dari masyarakat yang bebas etik menuju masyarakat yang bertanggung jawab secara etis. Kedua, dari budaya teknokrasi yang mendominasi manusia menuju teknologi yang melayani manusia. Ketiga, dari industri yang merusak lingkungan menuju industri yang ramah lingkungan, dan keempat, dari demokrasi legal menuju demokrasi yang berkeadilan dan berkebebasan.

Tetapi kita tidak boleh lupa bawa etika global (global ethics) juga harus didasarkan pada  etika ekonomi (economic ethics) dalam mengidealkan keadilan sosial. Pasalnya, transformasi tenaga produksi adalah menentukan dalam perkembangan hubungan sosial di masyarakat dalam sejarah perkembangannya. Cara pandang dan pola hubungan antar manusia yang ada sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan distribusi nilai ekonomisnya ketimbang terjadi secara alamiah (tanpa sebab-sebab material). Kontradiksi pun muncul ketika antara tenaga produktif manusia (kekuatan kerjanya,  alat kerja dan teknologinya, sasaran kerja atau lingkungan alamnya) tidak sesuai dengan hubungan kepemilikan yang ada.  Pada epos sejarah seperti ini, tidak heran jika berbagai persoalan yang mengikutinya akan muncul berupa persoalan  sosial, politik, dan budaya sebagai imbasdari kontradiksi ekonomi yang ada.

Artinya, etika harus dipahami sebagai bentuk kepedulian antar sesama manusia (inter-human) yang didasarkan pada pengetahuan objektif tentang kontradiksi yang ada. Logikanya orang tidak mungkin akan  memiliki patokan etis kalau tidak didahului dengan penilaian tentang mana yang baik-dan buruk. Kualitas dapat dilihat dari bentuk-bentuk hubungan material yang ada dalam kenyataan sehari-hari. Kesadaran tentang permasalaan akan membuat orang  menilai apakah masyarakat sekarang ini akan berjalan menuju humanitas atau dehumanitas. Struktur objektif adalah tempat individu-individu dalam masyarakat saling berhubungan dalam rangka memenuhi dan meningkatkan kebutuhan hidupnya. Apa bila hubungan itu saling mendukung dan memenuhi (kerjasama), maka masyarakat berjalan secara harmonis. Dan apa bila dalam hubungan ekonomis itu terjadi konflik, maka dapat dipastikan secara sosial-politik dan budaya (bahkan agama) akan terjadi konflik secara terus menerus.

Etika global adalah semacam  patokan budi yang lahir dari cara memandang realitas kemiskinan,  sebab-sebab objektifnya, dan imbasnya bagi disharmoni sosial, budaya, agama, dan etnisitas yang sangat rawan terjadi di era ini.  Etika global tidak hanya mencari titik temu antara berbagai macam kekayaan lokalitas yang  terbangun dan mendukung keragaman budaya manusia, tetapi juga mencari titik temu untuk mengatasi kontradiksi (ketidakadilan) global yang manifest dalam hubungan ekonomi-politik.

Toleransi antar sesama manusia di planet ini adalah watak yang dicita-citakan oleh pendukung etika global. Dan toleransi sebagai dimensi psikologis juga menyangkut bentuk perasaan dan cara pandang terhadap realitas dan hubungan antar sesama manusia. Toleransi adalah perasaan dan cara pandang melihat manusia lain sebagai bagian dari dunianya dan semua manusia dianggap sebagai sesame mahkluk yang perlu bekerjasama dalam mengatasi kesulitan hidup dan bersama-sama dapat mengembangkan dirinya di dunia ini.

Seabad lebih yang lalu, seorang pemikir yang bernama Bahá'u'lláh memberikan peringatan: "The well-being of mankind, its peace and security, are unattainable unless and until its unity is firmly established" (umat manusia, kedamaian dan keamanannya, hanya atas suatu pondasi kesatuan sejati, harmoni dan pemahaman antara manusia dari bermacam-macam bangsa di dunia,  masyarakat global yang berkelanjutan bisa dicanangkan). Dari sini, etika global adalah konsekuensi dari  globalisasi yang memiskinkan manusia dan menimbulkan  rasa solidaritas untuk memecahkan persoalan-persoalan lain akibat ketidakadilan global.

Globalisasi akan mengarah pada  adanya kewarganegaraan global (world citizenship) melampaui identitas bangsa, suku, agama  untuk menyikapi isu-isu global dan mengatasi permasalan-permasalahan yang ada. Peran sastra dalam hal ini masih sangat potensial untuk mencetak generasi-generasi yang peka terhadap perubahan dan perbedaan.***

 

 

 


Blog EntrySep 16, '07 8:10 AM
for everyone

Pertanyaan yang dulu sering kulontarkan adalah: Mengapa sih mereka kok mau-maunya capek-capek turun ke jalan melakukan aksi massa?
Ya, mirip pertanyaan seorang anak kecil yang belum paham dialektika sejarah.

Dari jaman dulu hingga sekarang, sejak sejarah memberikan material-material yang hubungannya kontradiktif, aksi massa adalah bagian dari sejarah itu sendiri. Rakyat berkumpul dan menuntut apa yang mereka inginkan, kalau tidak mereka akan tidak mendapatkan apa apa  kalau tidak menuntut.

Rakyat Rusia berkumpul untuk menuntut roti karena kalau tidak mendapatkan makanan mereka akan mati....
Petani menduduki tanah, mereka berkumpul ratusan dengan membawa cangkul, arit, tongkat, untuk mencegah agar tanahnya tidak direbut oleh pengusaha serakah dan pemerintah yang membela pengusaha itu....
Ribuan mahasiswa turun ke jalan dan berkumpul di gedung DPR  hingga Soeharto jatuh....

Kaum Pebleian (budak Yunani) melakukan mobilisasi  besar-besaran melawan kaum partisan untuk membuka ruang demokrasi polis-polis (negara kota)...

Jadi itu adalah bagian dari sejarah yang objektif. Dan pertanyaanku yang kulontarkan dulu memang mirip anak-anak yang selalu subjektif, manja, dan malas.

Pada akhirnya, pemikiran matang kita akan sampai pada kesimpulan bahwa: sepanjang sejarah dipenuhi dengan penindasan, maka selama itu pulalah terjadi perlawanan. Itu sudah menjadi pakem objektif...

Blog EntrySep 16, '07 7:42 AM
for everyone










Blog EntrySep 16, '07 6:47 AM
for everyone


 

 


Ada fenomena yang menarik di kota Jember Jawa Timur, kota kecil tempatku kuliah dulu.  Kalau kita melewati jalan-jalan sekitar kampus Universitas Jember, maka setiap sore hari di bulan puasa  jalanan (jalan Jawa) selalu macet. Kemacetan disebabkan oleh karena para kaum muda yang beramai-ramai menjual kolak atau manisan seperti es buah dan minuman segar lainnya. Gejala ini kira-kira telah berlangsung sejak empat tahun terakhir selama bulan puasa.

Hebohnya, para penjual manisan tersebut mayoritas adalah para gadis-gadis belia (borjuis lokal) di Jember yang mayoritas berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Kebanyakan dari mereka adalah para remaja yang tinggal  di Jember. Sebagian dari mereka bahkan berhasil ‘memobilisasi’ ibu-ibu-nya untuk berjualan. Mereka memarkir mobilnya di pinggir jalan dan menawarkan berbagai minuman segar yang dimaksudkan sebagai minuman berbuka puasa.

Ada suatu hal yang menarik bahwa para ‘penjual manisan’ ini  sangat pandai menawarkan dagangannya, sebagian dari mereka terdiri dari gadis-gadis cantik dan seksi yang juga berdandan menor seperti bintang iklan di TV-TV. menurut pengakuan salah satu dari mereka, mereka memang tidak memiliki motivasi  untuk mencari keuntungan dari apa yang dijualnya. Mereka hanya merasa senang dan bahagia karena bisa menyemarakkan daerah kampus yang tiba-tiba menjadi ramai karena kumpulan massa yang disebabkan oleh hadirnya gadis-gadis cantik itu—sebagian juga para model Jember yang aksinya itu juga disponsori oleh produk-produk tertentu.

 

Kampus Adalah Pusat Mode

Gejala itu semakin menguatkan harapan para perekayasa sosial borjuis (kapitalis)  bahwa segalanya memang harus lebur menjadi pasar. Hanya dengan pasar lah aktivitas manusia harus diatur, ritualitas  dan formalitas dapat berjalan lurus tetapi esensi pasar tidak boleh tereduksi bahkan harus unggul. Bahkan ritualitas seperti puasa dapat saja dimanfaatkan utuk menegaskan hakekat gaya hidup.

Gejala jalan Jawa  kampus Universitas Jember di atas adalah keniscayaan yang terjadi setelah dominasi pasar benar-benar telah mencabuli esensi kampus sebagai basis pendidikan (pencerahan). Kampus dengan mahasiswa yang basis sosialnya adalah borjuis kecil dengan membawa gaya hidup yang telah dipropagandakan oleh pasar melalui kebudayaan makronya, akhirnya, tidak mampu menyembunyikan kepura-puraannya sebagai menara gading sistem budaya kapitalisme. Aktivitas non-akademis dan anti-ilmiah semakin semarak. Di daerah kampus UNEJ saja, tiap malam selalu diisi dengan budaya ‘dugem’ baik di dalam kampus sendiri (campus center) maupun di daerah sekitarnya, terutama di kafe-kafe, yang berupa pentas musik yang didominasi oleh aliran hip-hop.

Di sekitar kampus sendiri tiada satupun terdapat bangunan yang berkaitan dengan upaya menciptakan nilai dan aktivitas akdemik. Di jalan Jawa dekat kampus misalnya, semua bangunan dipenuhi dengan pasar hiburan dan mode (play station, toko fashion seperti ‘black or white distro’ yang  turut membuat para mahasiswi teobsesi seperti selebritis, toko sepatu yang terlalu banyak jumlahnya, dan lain-lain).

Kemunduran aktivitas pencerahan dan majunya aktivitas gaya hidup borjuasi tersebut adalah pemandulan semangat kampus sebagai lingkungan yang harus berperan sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan pembelaan bagi masyarakat terindas. Gejala jual manisan gaul oleh para gadis-gadis cantik dan cowok-cowok yang mengunggulkan penampilan fisiknya tersebut hanyalah salah satu bagian dari kenyataan terkapitalisasikannya lingkungan kampus  untuk dikuasai oleh pasar bebas dan kekuatan modal yang mengendaki liberalisme budaya.

 

Dimanakah Semangat Puasa?

Menunggangi momentum puasa dengan memanfaatkannya untuk  kepentingan pasar dan modal bukanlah hal baru, bukan hanya fenomena Jember dan daerah kampus UNEJ, tetapi telah menjadi agenda tiap waktu.  Melalui TV, modal juga dapat menjadi penunggang bebas (free rider) ritualitas yang mendangkalkan hakekat sejati puasa dengan menayangkan berbagai macam sinetron yang ‘sok’ religius tetapi juga tidak cukup esensial memaknai hakekat agama Islam dalam cerita religius kosmetisnya.

Hakekat ibadah puasa adalah menyelami bagaimana rasanya menderita kelaparan. Dengan menahan rasa lapar kita diuji untuk mengalami sendiri bagaimana rasanya ketika orang kekurangan makanan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.  Orang yang mengalami penderitaan adalah orang yang mengalami kontradiksi dan pertentangan dalam hidup, dengan demikian mereka akan dapat berusaha, berpikir, dan akhirnya  mencari tahu sebab-sebab penderitaannya. Semangat kemiskinan adalah semangat untuk mempertanyakan hal-hal yang membuatnya miskin.

Ada beberapa keuntungan dari kondisi merasakan bagaimana kemiskinan. Pertama, ideologi yang lahir dari kondisi ini adalah  ideologi yang kritis karena membongkar selubung-selubung penindasan dan menguak akar-akar penderitaan. Kedua, semangat kerja keras dan kedisplinan yang merupakan semangat kaum miskin dan kelas pekerja. Kaum miskin ditempa dengan kondisi hidup yang keras dan sulit, sehingga mereka harus bekerja keras untuk menghadapi kesulitannya. Para buruh  yang harus datang tepat waktu dan tidak boleh melakukan kesalahan dalam bekerja, misalnya, adalah salah satu contoh bagaimana karakter manusia yangt disiplin dan telaten.

Semangat kerja keras dan kritis terhadap struktur penindasan yang menyebabkan kemiskinan, dengan demikian, adalah semangat yang seharusnya dihasilkan dari bulan ramadhan ini. Para elit politik, birokrat, guru, dan semua golongan  masyarakat seharusnya memahami apa hakekat puasa, bukan hanya ritualitas kosong yang melekat pada kesemarakan dan logika pasar (kapitalisme). Ritualitas kosong adalah ritualitas yang tidak mampu menurunkan peran agama dalam membebaskan umat manusia, tetapi hanya akan melahirkan bentuk-bentuk gaya hidup yang melanggengkan penindasan itu sendiri.

Puasa adalah ajang untuk menerapi diri sendiri, sejauh mana keimanan kita ini dihadapkan dengan kondisi kemiskinan masyarakat dan struktur penindasan yang ada di dalamnya. Sejauh mana kita berbuat untuk membebaskan kaum miskin dan tertindas—yang ini adalah jihad paling tinggi dalam ajaran Islam. Kesadaran untuk membongkar selubung penindasan yang disemangati oleh perjuangan membela rakyat miskin adalah spirit sejati dari bulan ramadhan.***

 


Pages:12